Harga Nikel Anjlok, Pasar Goyah Menanti Kepastian Kuota Produksi Indonesia di 2026

nikel

RollingStock.ID – Harga nikel dunia terkoreksi tajam pada Kamis (8/1), sehingga menghentikan reli lebih dari 30 persen yang terbentuk sejak Desember 2025. Kondisi ini seiring dengan penantian pasar terhadap sikap Indonesia yang belum mengungkap secara rinci kuota produksi pertambangan 2026.

Berdasarkan laporan Reuters, kontrak nikel paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) ditutup ambles 6,14 persen ke level 136.440 yuan atau sebesar USD19.538 per metrik ton, setelah sempat terperosok hingga 7,96 persen ke posisi 133.800 yuan.

Tekanan jual juga terjadi di pasar global, dengan kontrak nikel patokan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) melorot 4,05 persen menjadi USD17.170 per ton, setelah sebelumnya menyentuh titik terendah USD16.835 dan kehilangan hampir 6 persen dalam sehari.

Padahal, sejak Desember 2025 harga nikel sempat melesat hingga lebih dari 30 persen, lantaran ditopang ekspektasi pemangkasan kuota produksi 2026 melalui skema Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Indonesia. Kebijakan ini dipandang krusial, karena Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia, sehingga setiap sinyal pembatasan pasokan langsung berdampak ke pasar global.

Namun dalam konferensi pers terbaru, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia hanya menegaskan bahwa kuota akan tetap dikurangi dan disesuaikan dengan kebutuhan smelter domestik, tanpa menyebutkan angka pasti untuk tahun depan.

Pernyataan ini justru memicu keraguan para pelaku pasar, yang menilai absennya detail kuota membuka ruang spekulasi bahwa pengurangan pasokan bisa saja tidak seketat yang diharapkan. Tekanan terhadap harga nikel semakin berat, setelah data LME menunjukkan lonjakan stok di gudang terdaftar bursa.

Persediaan nikel meningkat 20.088 ton menjadi 275.634 ton, level tertinggi sejak Juni 2018. Kenaikan stok ini memperkuat dorongan aksi ambil untung, terutama setelah reli harga yang terjadi secara agresif dalam beberapa pekan terakhir.

Koreksi nikel juga bersamaan dengan pelemahan mayoritas logam dasar lainnya. Di SHFE, kontrak tembaga paling aktif ditutup menurun 2,76 persen ke 101.220 yuan per ton, setelah sempat menyentuh 100.040 yuan. Di LME, kontrak tembaga tiga bulan melemah 0,62 persen menjadi USD12.820 per ton, meski tetap ditopang kekhawatiran pasokan akibat gangguan tambang dan ketegangan perdagangan terkait tarif Amerika Serikat.

Logam dasar lain di LME turut bergerak variatif, dengan aluminium mengalami penurunan 0,57 persen, timbal merosot 1,36 persen, timah terkoreksi 0,39 persen dan seng naik tipis 0,08 persen. Di bursa berjangka Shanghai, tekanan lebih dalam terlihat pada aluminium yang merosot 2,89 persen, seng menurun 1,36 persen, timbal melemah 2,01 persen dan timah tertekan 1,83 persen.

Dengan kombinasi ketidakpastian kebijakan Indonesia dan melimpahnya stok global, kini pasar menantikan kejelasan arah RKAB 2026. Selama angka kuota belum dipastikan, volatilitas harga nikel diperkirakan tetap tinggi, mencerminkan tarik-menarik antara ekspektasi pembatasan pasokan dan realitas fundamental pasar. (*)

Penulis: Rahmat A Candra

Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top