Free Float Bisa Tersisa 1,58% Pasca OWK, Risiko Delisting PACK Ikut Mengemuka

pack

RollingStock.ID – Rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I (PM-HMETD I) alias rights issue yang dilakukan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) melalui penerbitan Obligasi Wajib Konversi (OWK) berpotensi menekan secara signifikan porsi saham beredar di publik (free float) PACK.

Berdasarkan tanggapan PACK atas permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diterbitkan Kamis (8/1), apabila seluruh OWK hasil PM-HMETD I dikonversi menjadi saham dan tidak ada investor publik yang melaksanakan haknya, maka struktur kepemilikan akan berubah secara drastis dengan dominasi pemegang saham pengendali.

Dalam simulasi yang disampaikan PACK, jumlah saham free float PACK berpotensi menurun menjadi 1,58 persen dari sebelumnya 29,6 persen. Penurunan ini terjadi karena sebagian besar saham hasil konversi OWK akan dikuasai PT Eco Energi Perkasa sebagai pembeli siaga dan sekaligus pemegang saham utama dengan kepemilikan saat ini mencapai 47,16 persen.

Pada kondisi tersebut, tentunya PACK secara secara otomatis tidak lagi memenuhi ketentuan minimum free float sebagaimana diatur dalam Peraturan Bursa Efek Indonesia (BEI) Nomor I-A, khususnya ketentuan V.1.1, sehingga berpotensi ditempatkan pada Papan Pemantauan Khusus. Saat ini batas minimal saham free float sebesar 7,5 persen.

OWK yang diterbitkan dalam rangkaian PM-HMETD I memiliki tenor satu tahun, diterbitkan pada 26 Januari 2026 dan jatuh tempo pada 26 Januari 2027. Setiap satu OWK dapat dikonversi menjadi satu saham baru tanpa biaya tambahan, setelah sebelumnya investor membayar harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp100 per OWK. Skema ini membuat OWK setara dengan saham tertunda, yang pada saat konversi akan langsung menambah jumlah saham beredar secara signifikan.

Secara teoretis, dilusi yang ditimbulkan dari aksi korporasi ini juga sangat besar. PACK menyampaikan bahwa berdasarkan rasio HMETD 5:102 dan harga pelaksanaan Rp100, harga teoretis saham berpotensi terdilusi hingga sekitar 90-95 persen dibandingkan harga saham sebelum PM-HMETD. Kondisi ini tentunya meningkatkan risiko rendahnya partisipasi investor publik, yang pada akhirnya memperbesar peluang saham hasil konversi OWK terkonsentrasi pada pemegang saham tertentu.

Penurunan free float hingga di bawah ambang batas minimum tidak hanya berdampak pada status pencatatan saham di BEI, tetapi juga memunculkan spekulasi pasar mengenai kemungkinan langkah lanjutan PACK, termasuk opsi pembatalan pencatatan saham secara sukarela (voluntary delisting).

Dalam keterangan resmi PACK kepada BEI, emiten yang dahulu bernama PT Solusi Kemasan Digital Tbk ini menegaskan bahwa sampai saat ini perseroan tidak berencana untuk melakukan delisting sukarela dari BEI. Namun secara regulasi, BEI memiliki kewenangan untuk mengevaluasi dan meminta rencana pemenuhan kembali ketentuan free float apabila pelanggaran terjadi akibat aksi korporasi.

Manajemen PACK pun berkomitmen untuk tetap memenuhi ketentuan free float dan likuiditas saham, antara lain dengan mengupayakan kehadiran investor lain dan meningkatkan kinerja usaha melalui pengembangan anak perusahaan. Meski demikian, pastinya pasar menilai bahwa tantangan tersebut tidak ringan, mengingat struktur kepemilikan pasca-konversi OWK akan sangat terkonsentrasi dan membutuhkan aksi lanjutan secara konkret agar porsi saham public meningkat lagi. (*)

Penulis: Satya Darmawan
Editor: Milfah Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top