Emas di Persimpangan: Antara Data Tenaga Kerja dan Risiko Geopolitik

emas

RollingStock.ID – Harga emas bergerak nyaris tanpa arah, sehingga mencerminkan sikap wait and see investor global terhadap rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Pada satu sisi, pasar mencoba membaca sinyal lanjutan arah kebijakan moneter Federal Reserve, sedangkan di sisi lain ada tekanan jangka pendek dari penyesuaian indeks komoditas global.

Emas spot tercatat stabil di level USD4.452,64 per ons pada pukul 01.34 WIB, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah di USD4.406,89 per ons, seperti dilaporkan Reuters di Bengaluru, Kamis (8/1) atau Jumat (9/1) dini hari WIB. Pergerakan serupa terlihat pada emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman Februari 2026 yang ditutup sedikit melemah pada posisi USD4.460,70 per ons.

Pasar juga sedang berada di bawah bayang-bayang proses rebalancing tahunan Bloomberg Commodity Index yang dimulai pekan ini. Penyesuaian rutin ini bertujuan untuk menyelaraskan kembali bobot komoditas dengan dinamika pasar terkini, namun kerap memicu volatilitas jangka pendek. Kondisi tersebut yang untuk sementara waktu menahan minat beli investor, khususnya pada emas dan perak.

Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn menilai, tekanan pada emas masih berpotensi berlanjut dalam beberapa sesi ke depan, seiring dengan berlangsungnya penyesuaian indeks. Meski demikian, dia melihat peluang berbeda setelah fase tersebut berlalu. Menurutnya, ketika tekanan mereda sekitar pertengahan pekan depan, pasar justru bisa membuka pintu masuk yang menarik bagi investor jangka panjang.

Saat ini fokus utama pelaku pasar tertuju pada rilis data non-farm payrolls AS yang dijadwalkan pada Jumat. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, ekonomi AS diperkirakan hanya menambah sekitar 60.000 lapangan kerja sepanjang Desember 2025 atau lebih rendah dibandingkan 64.000 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran diproyeksikan menurun tipis menjadi 4,5 persen dari 4,6 persen. Ekspektasi ini sejalan dengan perkiraan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dua kali di sepanjang 2026.

Di luar faktor moneter, risiko geopolitik dan ketidakpastian global tetap menjadi penopang harga emas. Ketegangan meningkat setelah penyitaan dua kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di kawasan Atlantik, serta laporan mengenai pembahasan pejabat AS soal kemungkinan pemberian pembayaran tunai kepada warga Greenland untuk mendorong pemisahan dari Denmark.

Dengan kombinasi risiko geopolitik dan membengkaknya beban utang fiskal global, HSBC memproyeksikan bahwa harga emas berpeluang untuk menembus USD5.000 per ons pada paruh pertama 2026, meski logam mulia lain seperti perak, platinum dan paladium justru bergerak melemah pada perdagangan terakhir. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top