Harga Minyak Melesat di Tengah Gejolak Venezuela dan Ancaman Pasokan Global

minyak2

RollingStock.ID – Harga minyak dunia melonjak hingga lebih dari 3 persen atau berbalik arah setelah dua hari berturut-turut mengalami pelemahan atau menyentuh level tertinggi dalam dua pekan. Reli ini mencerminkan meningkatnya kecemasan pasar terhadap stabilitas pasokan global, dipicu eskalasi geopolitik di Venezuela dan serangkaian risiko baru yang muncul dari Rusia, Irak maupun Iran.

Berdasarkan laporan Reuters, pada perdagangan Kamis (8/1), minyak mentah berjangka Brent sebagai acuan internasional ditutup menguat 3,4 persen menjadi USD61,99 per barel, sekaligus sebagai level tertinggi sejak 24 Desember 2025. Sementara itu, minyak mentah WTI AS meningkat 3,2 persen menjadi USD57,76 per barel. Kenaikan serempak ini menunjukkan respons pasar yang agresif terhadap potensi gangguan pasokan, bukan semata faktor teknikal.

Fokus utama pasar tertuju ke Venezuela, setelah sejumlah kedutaan asing dijadwalkan mengatur kunjungan yang melibatkan perwakilan perusahaan minyak Amerika dan Eropa pada pekan depan. Dua sumber menyebutkan, langkah tersebut berkaitan dengan pengumuman Washington mengenai kesepakatan minyak senilai USD2 miliar, serta rencana pasokan barang-barang AS ke negara-negara itu. Ketegangan semakin meningkat pasca Amerika Serikat menyita dua kapal tanker minyak terkait Venezuela di Samudra Atlantik, salah satunya berbendera Rusia.

Situasi semakin memanas  usai penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada akhir pekan lalu. AS kemudian memperketat blokade terhadap kapal-kapal yang berada di bawah sanksi dan lalu lintas minyak keluar-masuk Venezuela, anggota OPEC yang menyumbang sebesar 1 persen pasokan minyak global. Meski demikian, analis Ritterbusch and Associates menilai bahwa pasar energi sedang mengalami fase pemulihan, seraya menegaskan bahwa masuknya volume besar minyak mentah Venezuela ke Pantai Teluk AS berpotensi memakan waktu bertahun-tahun.

Di luar Amerika Latin, kekhawatiran pasokan datang dari berbagai penjuru. Sebuah tanker minyak tujuan Rusia dilaporkan diserang drone di Laut Hitam hingga harus mengalihkan rute, sementara itu di AS muncul wacana sanksi bipartisan yang menargetkan negara-negara mitra dagang Rusia. Dari Timur Tengah, Irak menyetujui rencana nasionalisasi ladang minyak raksasa West Qurna 2 untuk mengantisipasi dampak sanksi terhadap Lukoil Rusia, sedangkan Iran bergulat dengan protes nasional di tengah reformasi subsidi yang berisiko mengganggu ekspor minyaknya.

Analis Raymond James, Pavel Molchanov beranggapan, situasi di Iran tetap berisiko meski negara itu memiliki sejarah panjang demonstrasi. Jika kondisi memburuk, ekspor minyak Iran —sekitar 2% dari pasokan global— berpotensi terganggu. Dengan Irak dan Iran sebagai dua produsen terbesar OPEC setelah Arab Saudi, pasar kini menghadapi kombinasi ketidakpastian geopolitik lintas kawasan yang membuat reli harga minyak dinilai lebih didorong faktor risiko pasokan dibandingkan optimisme permintaan. (*)

Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top