
RollingStock.ID – Harga emas kembali menguat pada perdagangan Jumat (9/1) sekaligus mengunci kenaikan dalam sepekan, lantaran terdorong kondisi peningkatan kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan memanasnya risiko geopolitik global.
Berdasarkan laporan Reuters, emas spot tercatat meningkat 0,5 persen ke level USD4.496,09 per ons pada pukul 01.31 siang waktu New York (16.18 GMT), serta berada di jalur penguatan mingguan sebesar 3,9 persen. Sepanjang Desember 2025, harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di USD4.549,71. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari 2026 ditutup menguat 0,9 persen ke posisi USD4.500,9 per ons.
Penguatan emas terjadi setelah data non-farm payrolls AS menunjukkan penambahan tenaga kerja pada Desember 2025 hanya 50.000, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 60.000. Di saat yang sama, tingkat pengangguran menurun menjadi 4,4% atau sedikit lebih rendah dari proyeksi 4,5 persen, memperkuat sinyal adanya pelemahan di sisi penciptaan lapangan kerja.
“Data tenaga kerja menunjukkan lingkungan penciptaan lapangan kerja yang lemah. Potensi meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak yang cenderung lebih tinggi dan bersifat inflasioner, ketidakpastian dan The Fed yang lebih longgar. Semuanya menjadi kombinasi yang mendukung logam mulia,” kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities.
Saat ini pelaku pasar semakin meyakini bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga, setidaknya dua kali sepanjang tahun ini. Secara historis, prospek penurunan suku bunga menjadi sentimen positif bagi emas, karena menekan imbal hasil obligasi dan melemahkan dolar AS.
Di luar faktor ekonomi, tensi geopolitik global juga terus membayangi pasar. Ketidakstabilan di Iran, berlanjutnya konflik Rusia-Ukraina, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro hingga sinyal terbaru Washington terkait rencana pengambilalihan kendali atas Greenland menambah daftar risiko yang membuat investor bersikap defensif.
Bahkan, lembaga riset Metals Focus memproyeksikan, harga emas tetap berpotensi mencetak rekor baru di atas USD5.000 pada 2026, didorong tren de-dolarisasi global dan tingginya risiko geopolitik. Namun dari sisi permintaan fisik, harga emas yang tinggi menekan minat beli ritel di India, sementara itu premi emas di China justru melebar.
Ketidakpastian pasar juga diperparah isu tarif perdagangan, setelah Mahkamah Agung AS belum akan mengeluarkan putusan pada Jumat terkait gugatan besar atas legalitas tarif global luas Donald Trump. Putusan kasus tersebut diproyeksikan baru akan keluar pada 14 Januari 2026.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat penguatan signifikan. Perak spot melonjak 3,5 persen menjadi USD79,56 per ons dan berada di jalur kenaikan dalam sepekan sebesar 9,7%. Platinum meningkat 0,8 persen menjadi US$2.284,5 per ons, sementara itu paladium menguat 1,6 persen menjadi USD1.814,93 per ons. Saat ini Bank of America juga menaikkan proyeksi harga rata-rata platinum dan paladium di 2026, dengan alasan dislokasi pasar akibat sengketa dagang di tengah ketatnya pasokan fisik global, serta adanya dukungan tambahan dari impor China. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor; Milva Sary
