
RollingStock.ID – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) semakin mencuri perhatian investor, seiring dengan upaya agresif perseroan dalam menerapkan transformasi strategis untuk menjadi pemain infrastruktur digital ber-margin tinggi. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia pun secara resmi merekomendasikan “Buy” dengan target price di level Rp5.000 per saham.
Dalam hasil riset bertajuk Next-Gen Speed, Next-Level Growth yang dikirimkan Sabtu (9/1), dua analis Mirae Asset, Daniel Widjaja dan Wilbert Arifin menilai bahwa WIFI sedang memasuki fase krusial perubahan model bisnis. Emiten milik pengusaha Hashim Djojohadikusumo ini berhasil memanfaatkan hak eksklusif jaringan fiber di sepanjang koridor transportasi utama.
Jaringan fiber tersebut sekaligs sebagai fondasi untuk membangun bisnis infrastruktur yang lebih defensif dan berkelanjutan. Saat ini segmen konektivitas berkontribusi 73 persen terhadap total pendapatan, sementara itu margin EBITDA berada di level kuat sebesar 69 persen.
Daniel menyampaikan, kondisi itu mencerminkan kualitas pertumbuhan emiten pemilik brand Surge ini yang semakin solid. “WIFI sedang bertransformasi dari penyedia layanan konektivitas menjadi pemilik aset infrastruktur digital dengan hambatan masuk yang tinggi dan potensi monetisasi jangka panjang,” tulis Daniel dalam riset Mirae Asset.
Mirae Asset memproyeksikan, pendapatan WIFI bertumbuh agresif dengan CAGR lima tahun sebesar 64,4 persen hingga 2028. Pendapatan diperkirakan meningkat dari Rp1,6 triliun pada 2025 menjadi Rp3,8 triliun pada 2026, sebelum mencapai Rp8,1 triliun pada 2028.
Pertumbuhan itu ditopang ekspansi layanan FTTH melalui produk Starlite yang menyasar sekitar 25 juta rumah tangga underserved, serta peluncuran layanan FWA Internet Rakyat yang sudah mencatatkan lebih dari satu juta pra-registrasi. Implementasi teknologi WIFI-7 di wilayah Bali-Lombok juga dipandang sebagai katalis penting yang memperkuat diferensiasi layanan dan profil pertumbuhan WIFI.
Lebih lanjut Daniel menyebutkan, jumlah pelanggan Surge diprediksi meningkat signifikan, dengan pengguna FTTH mencapai 4,4 juta dan pelanggan FWA sebesar 2,5 juta pada 2028. Secara kumulatif, kondisi tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan lebih dari Rp7 triliun.
Ekspansi WIFI didukung pendanaan sebesar Rp8,4 triliun dan belanja modal mencapai Rp9,7 triliun hingga 2027. Kendati masih berada di fase investasi, perseroan diperkirakan mulai mencatatkan arus kas bebas positif pada 2028.
Wilbert mengungkapkan, sensitivitas valuasi saham WIFI lebih dipengaruhi kecepatan pembangunan jaringan dibandingkan dengan tingkat konversi pelanggan, sehingga menegaskan pentingnya kepemilikan aset infrastruktur dalam tesis investasi perseroan. Dengan target harga Rp5.000 per saham, valuasi WIFI mencerminkan 8,8 kali EV/EBITDA FY26.
Proyeksi tersebut masih menarik untuk emiten infrastruktur digital dengan potensi pertumbuhan tinggi. Namun demikian, dia juga menyoroti sejumlah risiko yang patut dicermati investor, termasuk potensi keterlambatan eksekusi proyek, tingginya intensitas belanja modal dan kemungkinan penetrasi pasar yang lebih lambat dari perkiraan. (Satya Darmawan)
