Tunggu Restu Otoritas China, Transformasi NINE ke Bisnis Tambang Masih Kondisional

nine

RollingStock.ID – PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) berencana mengintegrasikan aset tambang batubara dan semi-soft coking coal di Mongolia ke dalam perseroan melalui mekanisme Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PM-HMETD) atau rights issue.

Menurut Direktur Utama NINE, Nuzwan Gufron dalam siaran pers yang diterbitkan Jumat (9/1), langkah strategis perseroan itu mendapatkan support dari pemegang saham mayoritas, Poh Group asal Singapura. Dukungan ini akan direalisasikan melalui integrasi aset tambang di Mongolia ke dalam portofolio NINE melalui mekanisme rights issue.

Dia mengatakan, aset tambang yang akan dimasukkan ke dalam NINE sepenuhnya milik Poh Kay Ping melalui Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR), entitas yang menguasai dua konsesi pertambangan di Mongolia. Dengan skema rights issue, perseroan menyatakan tidak mengeluarkan kas untuk akuisisi aset itu, tetapi konsekuensinya tentu ada potensi dilusi kepemilikan investor publik.

“Realisasi rencana investasi ini bergantung pada hasil uji tuntas due diligence) yang memuaskan, serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (ODI) yang diperlukan dari otoritas Tiongkok. Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh,” ujar Nuzwan.

Lebih lanjut dia menyampaikan, rencana integrasi aset tersebut merupakan bagian dari peta jalan strategis Poh Group, yang sejak mengakuisisi NINE sudah mendorong transformasi kegiatan usaha perseroan dari penyedia layanan teknologi informasi (IT) menjadi pemain di sektor pertambangan dan energi.

Nuzwan menyebutkan, integrasi aset Mongolia berpotensi membuka jalur monetisasi yang lebih terstruktur. Namun, sejauh ini rencana investasi tersebut masih bersifat kondisional atau berada di fase persiapan, karena harus menunggu hasil uji tuntas dan persetujuan atau pencatatan ODI dari otoritas di China.

Tentunya, ketergantungan pada persetujuan regulator asing maupun hasil due diligence itu menempatkan rencana ekspansi NINE masih berada pada tingkat ketidakpastian yang signifikan. Nuzwan menegaskan, besaran investasi aktual dapat berubah menyesuaikan dengan izin yang akan diperoleh.

Pada sisi lain, klaim bahwa NINE dan Poh Group tidak akan menanggung belanja modal karena seluruh pendanaan operasional berasal dari mitra EPC+F menegaskan posisi perseroan yang lebih sebagai kendaraan korporasi dalam struktur kepemilikan aset, bukan sebagai operator tambang yang menanamkan modal langsung.

Rencana perubahan model bisnis NINE ini terjadi di tengah catatan bahwa sektor pertambangan memiliki karakter risiko yang berbeda, termasuk volatilitas harga komoditas, risiko geopolitik dan ketergantungan pada regulasi lintas negara.

Dengan rencana rights issue yang akan digunakan untuk memasukkan aset tambang milik pemegang saham mayoritas ke dalam neraca perseroan, tentunya saat ini publik pasar modal tengah mencermati bagaimana dampak aksi korporasi ini terhadap struktur permodalan, kepentingan pemegang saham dan keberlanjutan transformasi bisnis NINE. (Satya Darmawan)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top