
RollingStock.ID – Perusahaan tambang multinasional, Rio Tinto telah membuka pembicaraan untuk mengakuisisi perusahaan asal Swiss, Glencore. Hal ini tentunya menjadi sinyal kuat bahwa industri pertambangan global sedang memasuki fase konsolidasi besar-besaran, terutama di tengah melonjaknya kebutuhan tembaga dunia.
Berdasarkan laporan Reuters, apabila keinginan Rio Tinto tersebut bisa terealisasi, maka manuver korporasi ini bukan hanya berpotensi melahirkan raksasa baru bernilai lebih dari USD200 miliar, tetapi juga menempatkan perusahaan asal Australia, BHP yang saat ini sebagai penambang terbesar dunia berada dalam posisi tertekan untuk merespons.
Pembicaraan antara Rio Tinto dan Glencore yang masih berada di fase awal tersebut mencerminkan ambisi perusahaan tambang besar untuk memperluas skala bisnis. Para bankir menilai, transaksi ini tergantung nilai akhirnya, bisa masuk dalam jajaran 10 kesepakatan merger dan akuisisi terbesar dan sekaligus membuka jalan bagi mega-deal lain di 2026.
“Ini adalah contoh lain bahwa sektor pertambangan sedang terkonsolidasi dan beberapa perusahaan besar dipaksa melakukan aksi korporasi untuk menciptakan nilai,” ujar Mark Kelly, CEO firma penasihat MKI Global. Menurut dia, tembaga menjadi magnet utama di balik berbagai kesepakatan besar tersebut.
Sejumlah analis, investor dan bankir menilai, BHP merupakan pihak yang paling mungkin “mengganggu” rencana Rio Tinto dengan mengajukan penawaran tandingan atas Glencore. Jika Rio Tinto berhasil, maka gabungan keduanya diperkirakan melampaui BHP dari sisi nilai perusahaan, sebuah posisi yang selama ini menjadi simbol dominasi BHP di industri tambang global.
“Penyusup paling mungkin dalam kesepakatan ini adalah BHP,” tegas Richard Hatch, analis Berenberg. Dia beranggapan, jika BHP masuk melakukan penawaran terhadap Glencore, maka perusahaan ini bisa mempertahankan aset tembaga Glencore dan melepas aset lain yang dianggap tidak strategis.
Namun, sumber perbankan menilai bahwa BHP mungkin ragu karena portofolio Glencore yang sangat beragam dan potensi tuntutan regulator untuk melakukan divestasi demi menjaga persaingan. Situasi ini diperumit rekam jejak BHP yang sebelumnya gagal mengakuisisi Anglo American, meski telah melakukan pendekatan panjang pada 2024 dan sempat menghidupkan kembali upaya tersebut pada November 2025.
Manajer Portofolio Sumber Daya Alam di Ninety One yang juga pemegang saham Glencore, George Cheveley, mengatakan bahwa BHP mungkin merasa perlu turun tangan, tetapi secara emosional akan sulit setelah kegagalan berulang tersebut.
Pada sisi lain, tekanan internal juga membayangi BHP, seiring dengan rencana penunjukan CEO baru untuk membawa perubahan bagi perusahan. Meski demikian, sebagian analis berpendapat BHP belum tentu bereaksi agresif. “BHP memiliki profil pertumbuhan tembaga yang lebih bersih dibandingkan Rio dan Glencore. Jadi saya tidak pikir mereka harus melakukan apa pun,” kata analis RBC Kaan Peker. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
