
RollingStock.ID – Harga tembaga membuka pekan dengan lonjakan tajam, sehingga memantapkan posisinya yang semakin mendekati rekor tertinggi di tengah depresiasi dolar AS dan ekspektasi kebangkitan permintaan dari China.
Kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) melesat 2,91 persen ke level 103.200 yuan atau sekitar USD14.792,94 per metrik ton pada pukul 08.51 WIB. Kenaikan harga ini terjadi beberapa hari setelah mencetak rekor di 105.500 yuan per ton pada 6 Januari, seperti dilaporkan Reuters, Senin (12/1).
Pada pasar global, kontrak tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) ikut mengalami penguatan 1,22 persen menjadi USD13.156 per ton, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi USD13.387,5 per ton pada tanggal yang sama.
Reli harga tersebut tidak terlepas dari langkah kabinet China yang pada Jumat pekan lalu menggelar pertemuan untuk membahas implementasi paket kebijakan fiskal dan keuangan. Fokus kebijakan tersebut adalah mendorong permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga. Bagi pasar komoditas, sinyal ini menjadi bahan bakar utama yang menciptakan optimisme, karena peran vital China dalam menyerap pasokan logam dunia.
Dari sisi pasokan, kenaikan harga tembaga juga mendapatkan dorongan tambahan setelah produksi di perusahaan tambang tembaga milik negara Cile, Codelco tercatat menurun pada November 2025. Pada saat yang sama, pasar menempatkan perhatian pada rencana Rio Tinto yang akan mengakuisisi Glencore. Jika rencana ini terealisasi, maka akan melahirkan raksasa tambang terbesar di dunia dengan kapitalisasi gabungan mendekati USD207 miliar.
Secara lebih luas, pelemahan dolar AS menjadi angin segar bagi pasar logam dasar, karena membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pembeli global. Di Shanghai, harga nikel melonjak 3,63 persen menjadi 142.060 yuan per ton, sementara itu timah menembus level tertinggi sejak 9 Maret 2022 di posisi 371.870 yuan per ton. Aluminium SHFE menguat 1,93 persen, timbal meningkat 1,65 persen dan seng bertumbuh 0,48 persen.
Tren penguatan juga terasa di LME, dengan aluminium yang tercatat naik 0,7 persen, nikel menguat 1,31 persen, timbal meningkat 0,32 persen, timah melonjak 2,47 persen dan seng menguat 0,49 persen. Pergerakan serempak ini menegaskan bahwa pasar logam tengah berada dalam fase optimisme baru, dengan posisi tembaga berdiri di garis depan sebagai barometer pemulihan ekonomi global. (*)
Penulis: Milva Sary
Editor: Milva Sary
