
RollingStock.ID – Harapan reli harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia yang sempat menguat mulai berbalik arah. Pasar kembali tertekan lonjakan produksi di luar perkiraan yang memicu penumpukan persediaan, sehingga membuat prospek harga tertahan hingga penurunan output
Menurut analis industri Dorab Mistry kepada Reuters di Mumbai, Senin (12/1), tekanan tersebut berpotensi untuk berlanjut, karena pemilik modal mulai meninggalkan pasar berjangka sawit.
Di tengah sentimen tersebut, kontrak acuan CPO pengiriman Maret 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) hanya meningkat tipis 0,07 persen atau 3 ringgit ke level 4.039 ringgit (USD993,85) per metrik ton saat jeda perdagangan tengah hari. Kenaikan terbatas ini belum cukup menghapus bayang-bayang koreksi, karena harga sempat jatuh ke titik terendah lebih dari enam bulan pada Desember 2025.
“Kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives Exchange sedang tertekan. Fund investor keluar dari pasar. Pelemahan ini kemungkinan akan berlanjut hingga produksi benar-benar menurun,” ujar Mistry di Karachi, Pakistan.
Pernyataan Mistry tersebut sekaligus menegaskan perubahan signifikan dari proyeksi optimistis yang dia sampaikan pada November 2025 sebesar 5.500 ringgit per ton pada Januari–Maret 2026, seandainya Indonesia memperluas pengambilalihan perkebunan sawit dan menerapkan campuran biodiesel 50 persen (B50).
Saat ini skenario bullish tersebut terkikis, tercermin dari produksi global yang melonjak 1 juta ton di atas perkiraan, stok menumpuk, dan permintaan biofuel —terutama dari Amerika Serikat— tidak memenuhi harapan. Di Malaysia, persediaan diperkirakan melampaui 3 juta metrik ton atau mengalami lonjakan dari estimasi sebelumnya sebanyak 2 juta ton, seiring output yang tetap kuat sejak Oktober 2025.
Meski koreksi harga membuat CPO lebih kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lain, seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari, namun dorongan permintaan belum juga menguat. Ke depan, lanjut Mistry, produksi CPO Malaysia diperkirakan menurun pada tahun ini setelah melampaui 20 juta ton untuk pertama kalinya di 2025. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
