Intervensi Politik Jadi Sorotan, Dolar AS Tertekan Usai Isu Powell

dolar
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Dolar Amerika Serikat melemah pada perdagangan Senin (12/1), setelah muncul kekhawatiran serius terhadap independensi bank sentral menyusul ancaman Departemen Kehakiman AS yang akan mendakwa Chairman Federal Reserve, Jerome Powell.

Tekanan terhadap The Fed yang akan mempidanakan Powell tersebut memutus reli dolar di awal tahun dan memicu volatilitas pasar valuta asing, meskipun sebelumnya mata uang AS ini sempat ditopang sentimen geopolitik dan data ekonomi domestik yang solid.

Berdasarkan laporan Reuters, Powell pada Minggu mengungkapkan bahwa The Fed menerima surat panggilan (subpoena) dari Departemen Kehakiman pekan lalu, terkait pernyataannya di Kongres pada musim panas mengenai pembengkakan biaya proyek renovasi kantor pusat The Fed di Washington senilai USD2,5 miliar.

Dia menyebut langkah tersebut sebagai dalih bagi Gedung Putih untuk memperoleh pengaruh lebih besar atas kebijakan suku bunga, yang ingin dipangkas secara agresif olehh Presiden AS, Donald Trump, demikian laporan Reuters di New York, Senin (12/1) atau Selasa (13/1) pagi WIB.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan, Trump tidak mengarahkan pejabat Departemen Kehakiman untuk menyelidiki Powell. Namun, pasar tetap mencermati potensi tekanan politik terhadap The Fed, terutama di tengah spekulasi bahwa Trump akan menunjuk pimpinan bank sentral yang lebih dovish ketika masa jabatan Powell berakhir pada Mei 2026.

Di pasar, Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama tercatat menurun 0,37 persen ke level 98,87. Euro menguat 0,29 persen ke USD1,1671.

Chief Market Strategist Bannockburn Global Forex, Marc Chandler menilai, isu subpoena terhadap Powell telah menutupi sentimen geopolitik yang sebelumnya menopang dolar dan benar-benar mengakhiri reli awal tahun bagi mata uang AS tersebut.

Tekanan terhadap dolar datang di tengah lanskap sentimen yang saling berlawanan. Dolar sempat menguat pada Jumat pekan lalu, setelah laporan ketenagakerjaan AS yang kuat untuk Desember 2025 dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Januari dan pemangkasan diperkirakan baru akan terjadi pada Juni 2026.

Namun, analis Nomura yang dipimpin Craig Chan beranggapan, risiko terhadap independensi The Fed dan menunggu putusan Mahkamah Agung AS terkait legalitas kebijakan tarif Trump berpotensi menjadi faktor yang melemahkan dolar dalam jangka pendek.

Terhadap yen Jepang, dolar justru menguat 0,15 persen ke level 158,12 setelah sempat menyentuh posisi tertinggi satu tahun di level 158,19. Chandler menilai, pelemahan yen dipicu data upah Jepang yang sangat lemah, sehingga membuat pasar menunda ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ). Tekanan tambahan datang dari faktor politik Jepang, termasuk wacana pemilu dadakan dan kebijakan fiskal ekspansif maupun sikap dovish pemerintah terhadap BoJ. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top