
RollingStock.ID – PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) mengeluhkan, besarnya tantangan industri perkebunan kelapa sawit, meskipun prospek bisnis sektor ini dinilai tetap positif. Perseroan menilai fluktuasi harga komoditas, perubahan kebijakan dan regulasi, isu keberlanjutan, serta kondisi cuaca menjadi faktor utama yang bisa menekan kinerja industri.
Berdasarkan penjelasan NSSS kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 13 Januari 2026, manajemen perseroan menyampaikan bahwa permintaan minyak kelapa sawit (CPO) relative stabil, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Namun, stabilitas permintaan tersebut belum sepenuhnya mampu menghilangkan berbagai risiko eksternal yang melekat pada industri.
Cuaca ekstrem, misalnya, dapat berdampak langsung pada kuantitas Tandan Buah Segar (TBS) yang dipanen dan pada akhirnya mempengaruhi volume produksi CPO. Selain itu, fluktuasi harga CPO global, dinamika kebijakan pemerintah dan tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan juga menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan terkait sawit.
Merespons kondisi tersebut, manajemen NSSS mengaku tetap konsisten melanjutkan tata kelola dan operasional usaha secara behati-hati dan terukur. Selain itu, perseroan juga berfokus pada efektivitas dan efisiensi biaya pemupukan maupun perawatan kebun untuk menjaga tingkat produksi TBS tetap optimal, serta penambahan area panen sesuai dengan umur tanaman.
Pada sisi hilir, manajemen NSSS menyampaikan bahwa pihaknya akan mengoptimalkan utilisasi pabrik kelapa sawit, agar mampu meningkatkan produksi CPO dan inti sawit (PK), sekaligus mempertahankan kualitas produk dan menjaga standar asam lemak bebas (FFA) premium. Perseroan juga menegaskan akan lebih selektif dalam pembelian aset baru dan mengoptimalkan pemanfaatan aset eksisting.
Secara strategis, NSSS menargetkan tetap fokus pada pengelolaan dan pengembangan perkebunan kelapa sawit di sepanjang 2026 melalui kegiatan pemeliharaan, pemupukan dan penanaman tanaman kelapa sawit. Perubahan teknologi juga menjadi perhatian perseroan, karena ketertinggalan dalam adopsi teknologi agronomi maupun pengolahan bisa berdampak pada efisiensi, produktivitas maupun dan struktur biaya entitas anak.
Untuk sisi korporasi, saat ini NSSS berada pada tahap persiapan pembangunan pabrik kelapa sawit ketiga di PT Prasetya Mitra Muda dan perseroan juga terus melakukan intensifikasi pada kebun eksisting dan ekstensifikasi melalui penanaman di lahan yang belum tertanam.
Terkait aspek keuangan, NSSS tetap menjalankan kewajiban pembayaran utang bank sesuai jadwal dan melakukan pembayaran kepada pemasok maupun kontraktor. Menyoal kebijakan dividen, perseroan sudah membagikan dividen interim untuk Tahun Buku 2025 sebesar Rp3 per saham, sedangkan kebijakan dividen di 2026 akan mempertimbangkan kepentingan pemegang saham dengan memperhatikan kondisi keuangan NSSS.
Manajemen menyampaikan, target pertumbuhan produksi TBS pada 2026 berpotensi mengalami penyesuaian, jika terjadi perubahan cuaca. Namun, NSSS menegaskan akan berupaya mengoptimalkan produksi melalui langkah-langkah strategis. Manajemen NSSS juga menyatakan bahwa perseroan tidak memiliki rencana replanting pada tahun ini. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
