Produksi Sawit Indonesia Diproyeksikan Capai 49,8 Juta Ton di 2026

kelapa sawit

RollingStock.ID – Produksi kelapa sawit Indonesia diproyeksikan bertumbuh moderat dan mencapai 49,8 juta ton pada 2026, seiring pemulihan fase produksi tanaman dan perbaikan kondisi iklim.

Proyeksi tersebut disampaikan Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) dalam laporan riset Outlook Sawit Indonesia 2026 yang dikutip Rabu (14/1). Perkumpulan pusat kajian strategis kelapa sawit ini menilai, tantangan industri pada 2026 bersifat semakin struktural.

“IPOSS menyusun Outlook Sawit 2026 untuk memetakan risiko dan pilihan kebijakan yang perlu diambil agar industri sawit Indonesia tetap berdaya saing dan berkelanjutan, kata Ketua Pengurus IPOSS, Nanang Hendarsah.

Pertumbuhan produksi dianggap tidak lagi ditopang ekspansi lahan, melainkan dari peningkatan produktivitas, kepastian tata kelola dan prinsip keberlanjutan. Dalam konteks global, laporan tersebut mencatat bahwa pasokan minyak sawit mentah (CPO) dunia tetap terkonsentrasi di Indonesia dan Malaysia.

Kondisi tersebut menjadikan kinerja produksi kedua negara sebagai faktor kunci dalam menentukan stabilitas harga minyak nabati dunia di 2026. Dari sisi kebijakan, IPOSS menyoroti peran strategis energi berbasis sawit. Implementasi mandatori biodiesel B40 dan potensi penguatan menuju B50 akan meningkatkan serapan CPO di pasar domestik.

Penguatan konsumsi dalam negeri ini dipandang akan mengubah struktur pasar sawit nasional, dengan implikasi berkurangnya ruang ekspor, namun sekaligus berkontribusi pada stabilitas harga dan penguatan ketahanan energi nasional.

Lebih lanjut IPOSS memproyeksikan, peningkatan permintaan domestik akan menjaga harga CPO global tetap berada pada level relatif tinggi di sepanjang 2026, meski tetap dipengaruhi dinamika produksi global dan kebijakan perdagangan negara mitra.

IPOSS merekomendasikan percepatan peremajaan kebun rakyat guna mendorong produktivitas, penguatan kepastian legalitas serta integrasi tata kelola dan penyelarasan kebijakan energi dan perdagangan, agar penguatan pasar domestik tidak menggerus daya saing ekspor.

“Ke depan, pengelolaan industri sawit tidak bisa lagi berjalan secara business as usual. Transformasi berbasis produktivitas, tata kelola yang kuat dan keberlanjutan menjadi kunci agar sawit Indonesia tetap menjadi pemain utama minyak nabati dunia,” ucap Nanang. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top