Lonjakan Permintaan India-China Ungkit Harga CPO Malaysia Sebesar 1%

sawit
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia berbalik menguat tajam pada perdagangan Rabu setelah sempat melemah. Lonjakan ini terutama ditopang sinyal kebangkitan permintaan dari dua raksasa konsumen Asia, yakni India dan China, serta adanya reli harga minyak nabati pesaing.

Berdasarkan laporan Reuters dari Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (14/1), kontrak acuan CPO pengiriman Maret 2025 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (MDEX)melonjak 43 ringgit atau sebesar 1,06 persen menjadi 4.107 ringgit (USD1.013,32) per metrik ton pada jeda perdagangan tengah hari ini.

Penguatan tersebut mencerminkan aksi beli lanjutan pelaku pasar yang mengikuti kenaikan harga minyak kedelai di Chicago dan Dalian. “Pasar tengah mengalami aksi beli lanjutan, seiring dengan penguatan harga minyak kedelai di Chicago dan pasar Dalian,” kata Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, perusahaan pialang berbasis di Selangor.

Dia menambahkan, kinerja ekspor CPO Malaysia pada Januari 2026 mulai menunjukkan momentum positif. Data 10 hari pertama bulan ini tercatat kuat dan pasar menaruh harapan hasil serupa untuk periode 15 hari pertama Januari tahun ini. “Kami melihat adanya minat dari India dan China dalam dua hari terakhir,” jelas Supramaniam.

Estimasi lembaga survei kargo menunjukkan, ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1-10 Januari 2026 melonjak sekitar 17,7 persen hingga 29,2 persen, dibandingkan dengan periode yang sama bulan sebelumnya. Sementara itu, surveior kargo dijadwalkan merilis estimasi ekspor periode 1-15 Januari pada Kamis besok.

Pada pasar lain, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian meningkat 0,15 persen, sementara itu kontrak CPO menguat 0,2 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga meningkat 0,2 persen. Secara historis, pergerakan CPO kerap mengikuti minyak nabati pesaing, karena berkompetisi ketat di pasar minyak nabati global.

Dari sisi mata uang, ringgit Malaysia —mata uang perdagangan CPO— menguat tipis 0,05 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat harga sawit sedikit lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang asing. Di Eropa, impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2025/2026 yang dimulai Juli mencapai 6,61 juta metrik ton hingga 11 Januari 2026 atau menurun 14 persen (year-on-year), sedangkan impor minyak sawit menyusut 5 persen menjadi 1,6 juta ton.

Harga minyak mentah dunia melemah setelah mencatat kenaikan empat hari beruntun, seiring dimulainya kembali ekspor Venezuela, meski kekhawatiran gangguan pasokan dari Iran akibat kerusuhan mematikan masih membayangi pasar. Pelemahan minyak mentah ini turut mengurangi daya tarik sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Secara teknikal, analis Reuters, Wang Tao menilai bahwa harga CPO berpeluang kembali menguji puncak Selasa di level 4.147 ringgit per metrik ton, “Didorong olehh pergerakan Wave c,” ucap Tao. (*)

Penulis: Kafka D Eiran
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top