
RollingStock.ID – Kementerian Perindustrian berambisi mampu merealisasikan pertumbuhan industri pengolahan non-migas mencapai 5,51 persen di 2026, seolah tantangan struktural, tekanan eksternal dan perlambatan ekonomi dunia bukan penghalang berarti bagi laju manufaktur domestic.
Pernyataan ambisius tersebut disampaikan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, yang sejauh ini menilai bahwa sektor industri sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi dan motor utama penciptaan lapangan kerja. Terlebih lagi, kata dia, industri manufaktur mampu bertumbuh di atas 5 persen.
“Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang 2026,” ujar Agus dalam keterangannya yang diedarkan Minggu (18/1).
Dia menyampaikan, target pertumbuhan tersebut akan ditopang rencana operasionalisasi 1.236 perusahaan industri yang dibangun sepanjang 2025 dan ditargetkan bisa berproduksi pada tahun ini. Kemenperin mencatat, kapasitas produksi baru diperkirakan menyerap 218.892 tenaga kerja dengan dukungan investasi sektor industri pengolahan non-migas mencapai Rp551,88 triliun, termasuk investasi di luar tanah dan bangunan sebesar Rp444,25 triliun.
“Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja baru,” ucap Agus.
Dari sisi permintaan, Kemenperin menilai, pasar domestik menjadi jangkar utama dengan kontribusi sebesar 80 persen, sementara itu ekspor 20 persen. Pemerintah mendorong substitusi impor, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), optimalisasi belanja pemerintah dan BUMN, serta penguatan industri kecil dan menengah agar masuk ke dalam rantai pasok industri nasional.
Sejumlah sub-sektor diproyeksikan menjadi penopang utama pertumbuhan, antara lain industri logam dasar yang didorong proyek infrastruktur dan hilirisasi, industri makanan dan minuman sebagai kontributor terbesar PDB manufaktur, serta industri kimia, farmasi dan obat yang dipacu peningkatan permintaan produk kesehatan maupun bahan kimia industri.
Untuk pasar ekspor, kontribusi produk industri pengolahan non-migas ditargetkan mencapai 74,85 persen dari total ekspor nasional pada 2026, sejalan dengan strategi diversifikasi pasar dan peningkatan daya saing global. Keyakinan pemerintah juga diperkuat melalui peluncuran Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) sebagai kerangka kebijakan menghadapi tantangan global.
Menurut Agus, strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat keterkaitan hulu-hilir, mendorong transformasi industri 4.0 dan mendukung agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto, seperti swasembada pangan dan energi. Dia menegaskan, optimisme pemerintah bahwa industri manufaktur akan tetap bertumbuh di atas 5 persen pada 2026. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
