
RollingStock.ID – Harga emas dan perak melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada Senin (19/1), karena dipicu gelombang pembelian aset safe-haven setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa terkait sengketa Greenland.
Berdasarkan laporan Reuters, Emas spot melesat 1,6 persen menjadi USD4.670,01 per ons pada pukul 08.10 WIB, setelah sebelumnya menyentuh rekor USD4.689,39 per ons, sedangkan emas berjangka AS kontrak Februari 2026 meningkat 1,8 persen ke USD4.677 per ons. Perak mencatat kenaikan lebih tajam, dengan harga spot melonjak 4,4 persen menjadi USD93,85 per ons setelah sempat menyentuh rekor USD94,08 per ons.
Reli logam mulia tersebut terjadi setelah Trump pada Sabtu pekan lalu menyatakan akan menggulirkan gelombang tarif yang semakin besar terhadap sekutu Eropa hingga AS diizinkan untuk membeli Greenland. Pernyataan ini memperuncing perselisihan mengenai masa depan pulau Arktik milik Denmark tersebut. Para duta besar Uni Eropa pada Minggu (18/1) sepakat meningkatkan upaya diplomatik untuk membujuk Trump agar membatalkan rencana tarif, sembari menyiapkan langkah balasan jika kebijakan itu tetap dijalankan.
Ancaman tarif itu langsung menekan kontrak berjangka saham AS dan dolar AS, sementara itu minat investor mengalir deras ke aset lindung nilai seperti emas, yen Jepang dan franc Swiss. Kondisi ini mencerminkan peningkatan sikap pasar yang menghindari risiko. Dari sisi kebijakan moneter, Vice Chair The Fed untuk Pengawasan, Michelle Bowman mengatakan bahwa kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih rapuh membuat bank sentral perlu memangkas kembali tingkat suku bunga, sehingga hal ini semakin menguatkan daya tarik emas.
Sentimen pasar juga dibebani perlambatan ekonomi China. Pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu ini diperkirakan melambat ke level terendah dalam tiga tahun pada Kuartal IV-2025 akibat pelemahan permintaan domestik, sedangkan ketegangan perdagangan dan ketidakseimbangan struktural dinilai menjadi risiko besar ke depan. Di tengah gejolak tersebut, SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar di dunia, melaporkan kepemilikan emasnya meningkat 1,01 persen menjadi 1.085,67 metrik ton pada Jumat pekan lalu, yang mencerminkan kuatnya arus masuk investor institusional.
Pada sisi permintaan fisik, pembelian emas di India tetap lesu karena harga yang kembali mencetak rekor menggerus minat ritel, sedangkan permintaan di China relatif stabil menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Logam mulia lainnya ikut menguat, dengan platinum spot naik 1,9 persen ke USD2.373,08 per ons dan paladium menguat 0,5 persen menjadi USD1.809 per ons, sehingga menegaskan bahwa ketegangan geopolitik dan prospek suku bunga rendah kini menjadi bahan bakar utama reli logam mulia global. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
