
RollingStock.ID – Harga minyak dunia melemah pada awal pekan setelah kerusuhan sipil di Iran mulai mereda dan memangkas kekhawatiran terkait potensi serangan Amerika Serikat negara salah satu produsen utama minyak ini. Sementara itu, perhatian pelaku pasar beralih pada ketegangan geopolitik baru seputar Greenland yang dinilai dapat memicu sentimen risk-off global.
Berdasarkan laporan Reuters di Calgary, Senin (19/1) atau Selasa (20/1) pagi WIB, minyak mentah berjangka Brent ditutup menurun 19 sen atau 0,3 persen menjadi USD63,94 per barel. Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari 2026 bergerak mendatar di USD59,44 per barel dan tidak berubah dari penutupan sebelumnya.
Tekanan pada harga datang setelah aparat Iran berhasil meredam gelombang protes, yang menurut pejabat setempat telah menewaskan sekitar 5.000 orang dan sinyal bahwa Presiden AS, Donald Trump mundur dari ancaman intervensi militer yang sempat mencuat.
“Dengan meredanya kekhawatiran terkait Iran dalam beberapa hari terakhir setelah beredarnya rumor serangan Amerika, pasar kini memusatkan perhatian pada isu Greenland dan seberapa besar dampak lanjutan dari ketegangan antara AS dan Eropa, karena perluasan perang dagang berpotensi menekan permintaan,” papar analis Rystad Energy, Janiv Shah.
Trump meningkatkan upayanya untuk merebut kedaulatan Greenland dari Denmark dengan mengancam tarif hukuman terhadap sejumlah negara yang menghalangi langkah tersebut, mendorong Uni Eropa mempertimbangkan langkah balasan. Juru bicara UE mengatakan, para pemimpin Eropa akan menggelar pertemuan darurat di Brussel pada Kamis pekan ini. Meski Greenland bukan produsen minyak, pendiri Commodity Context, Rory Johnston menilai bahwa sengketa itu mencerminkan sentimen risk-off yang lebih luas, tercermin dari aksi jual di pasar saham global.
Menurut analis PVM Oil Associates, John Evans, pasar juga mencermati risiko kerusakan infrastruktur Rusia dan gangguan pasokan produk sulingan di tengah prakiraan cuaca dingin ekstrem di Amerika Utara dan Eropa. Dalam jangka menengah hingga panjang, peningkatan pasokan minyak Venezuela ke wilayah Pantai Teluk AS diperkirakan menekan harga.
Namun proyeksi terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global lebih kuat di 2026 berpotensi mengimbangi tekanan tersebut. “Pasar akan terkunci oleh kekuatan bullish dan bearish yang saling bertentangan, sehingga pergerakan harga cenderung sideways,” kata analis Price Futures Group, Phil Flynn. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
