
RollingStock.ID – Rencana MSCI memperketat metodologi penghitungan free float berpotensi memicu arus keluar dana global lebih dari USD2 miliar dari pasar saham Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Berdasarkan laporan Bloomberg yang dipublikasi Selasa (20/1), keputusan MSCI yang akan diambil pada akhir Januari ini dipandang sebagai salah satu ujian paling krusial bagi kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor internasional.
Penyedia indeks global itu tengah mempertimbangkan untuk mempersempit definisi free float, yakni jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan, setelah menerima masukan dari pelaku industri. Jika disetujui, aturan baru akan berlaku pada peninjauan indeks MSCI pada Mei 2026, sehingga dapat memaksa investor pasif melepas kepemilikan saham Indonesia apabila jumlah saham yang dapat diperdagangkan dinilai lebih kecil dari yang selama ini dilaporkan emiten.
Bloomberg menyampaika, dampak dari konsisi tersebut berpotensi sangat besar bagi pasar saham Indonesia hingga mencapai USD971 miliar, mengingat saat ini rata-rata free float emiten Indonesia merupakan yang terendah di Asia. Investor menilai keputusan ini tidak hanya akan menggerus arus dana, tetapi juga memperkuat persepsi bahwa struktur kepemilikan yang terkonsentrasi dan tata kelola yang lemah masih menjadi hambatan utama bagi partisipasi modal asing jangka panjang.
Tekanan diperkirakan paling terasa pada sejumlah saham berkapitalisasi besar yang kepemilikannya sangat terkonsentrasi, termasuk PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang mayoritas sahamnya dikuasai taipan Prajogo Pangestu. Dalam bisnis penyusunan indeks, free float menjadi penentu utama bobot saham, karena semakin kecil saham yang tersedia untuk diperdagangkan, maka semakin sulit bagi investor institusi untuk membangun posisi yang berarti.
Rendahnya free float sudah lama menjadi sorotan, dengan lebih dari 200 saham di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memiliki free float di bawah 15 persen. Kondisi ini membuat banyak saham utama dinilai tidak likuid, mendistorsi kinerja indeks, serta meningkatkan risiko volatilitas dan manipulasi. Pada akhirnya, mendorong manajer investasi global untuk lebih memilih Indeks MSCI Indonesia yang kriterianya lebih ketat.
Kesenjangan itu terlihat jelas pada tahun lalu. ketika IHSG melonjak lebih dari 22 persen ke rekor tertinggi, pada sisi lain Indeks MSCI Indonesia justru anjlok 3 persen, mencatat selisih kinerja terbesar sepanjang sejarah. MSCI menilai perubahan metodologi free float akan memberikan transparansi tambahan, meski para pialang memperkirakan kebijakan tersebut justru akan memangkas kapitalisasi pasar free float sejumlah emiten dan memicu arus keluar dana pasif asing sekitar USD2 miliar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya meredam kekhawatiran dengan rencana menaikkan batas minimum free float menjadi 10-15 persen dari level saat ini 7,5 persen, dengan target jangka panjang 25 persen. Dengan struktur kepemilikan yang tidak transparan, insentif pajak yang mendorong kepemilikan korporasi dan keterbatasan likuiditas pasar, maka hal tersebut dinilai akan membuat upaya reformasi ini menjadi ujian berat bagi agenda perbaikan tata kelola dan daya saing pasar modal Indonesia. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
