Gerakan “Sell America” Dipicu Retorika Tarif Trump, Dolar AS Terpantau Ambles

yen
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Dolar Amerika Serikat mencatatkan pelemahan harian terdalam untuk lebih dari sebulan, setelah gertakan terbaru Gedung Putih terhadap Eropa —terkait masa depan Greenland— memicu gelombang aksi jual di pasar saham dan obligasi pemerintah AS. Tekanan ini sekaligus mendorong penguatan euro dan poundsterling di tengah peningkatan kekhawatiran investor terhadap stabilitas aset-aset Amerika.

Berdasarkan laporan Reuters di New York, Selasa (20/1) atau Rabu (21/1) pagi WIB, Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia sempat merosot 0,7 persen, penurunan satu hari terbesar sejak pertengahan Desember 2025. Kekhawatiran investor terhadap eksposur di pasar AS meningkat, seiring dengan memburuknya sentimen global.

Ancaman tarif terbaru Presiden AS, Donald Trump terhadap sekutu-sekutu Eropa pada Senin lalu menghidupkan kembali strategi perdagangan “Sell America”, sebagaimana terlihat pasca-pengumuman tarif “Liberation Day” pada April 2025. Dalam pola tersebut, saham, obligasi pemerintah AS dan dolar dilepas secara bersamaan.

“Aksi jual ini dipicu kekhawatiran atas ketidakpastian berkepanjangan, hubungan aliansi yang menegang, serta menurunnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Amerika,” ujar analis IG di Sydney, Tony Sycamore sembari menyatakan bahwa pengamanan Greenland tetap dipandang sebagai prioritas keamanan nasional pemerintahan saat ini.

Pada pasar valuta asing, euro menguat 0,57 persen ke USD1,1711 dan poundsterling meningkat tipis 0,01 persen ke USD1,34, dengan dukungan tambahan dari data pasar tenaga kerja Inggris. Di Wall Street, indeks S&P 500 dan Nasdaq terperosok ke level terendah dalam satu bulan, sementara itu Dow Jones menyentuh titik intraday terendah sejak 5 Januari 2026, seiring kembalinya investor dari libur panjang dan meningkatnya sentimen penghindaran risiko.

Untuk pasar global lainnya, yen Jepang menguat saat perdagangan Eropa dibuka, sehingga dolar melemah ke 158,28 yen, sedangkan franc Swiss —aset lindung nilai— menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Dolar juga bergerak di dekat level terlemah terhadap yuan China di pasar offshore Hong Kong, setelah bank sentral China mempertahankan suku bunga acuannya. Di kawasan Pasifik, dolar Australia dan Selandia Baru menguat, dengan dolar Selandia Baru mencetak level tertinggi sepanjang untuk tahun ini. (*)

Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top