
RollingStock.ID – Tim riset dari organisasi bidang edukasi dan investasi pasar modal, Indonesia Investment Education (IIE) menilai, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang berada pada fase krusial, dengan peluang rebound teknikal yang tetap terbuka di tengah peningkatan risiko koreksi jangka pendek.
Menurut Founder IIE, Rita Efendy dalam analisis teknikal yang diterbitkan Tim Riset IIE pada akhir pekan ini, arah pergerakan IHSG akan sangat ditentukan kemampuan indeks dalam mempertahankan area support kunci. Dia menyampaikan, sepanjang IHSG mampu bertahan di level 8.950, maka peluang rebound menuju area resistance tetap terbuka.
Namun sebaliknya, kata Rita, kegagalan dalam menjaga level tersebut berpotensi untuk meningkatkan tekanan koreksi, sejalan dengan sinyal yang sudah ditunjukkan pada sejumlah indikator teknikal. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/1), IHSG terpantau berada di level 8.951 yang sekaligus menjadi titik pivot mingguan dan bisa digunakan sebagai acuan keseimbangan pergerakan jangka pendek.
Pada skenario positif, ungkap praktisi pasar modal ini, IHSG tetap memiliki peluang untuk melanjutkan pola penguatan, selama mampu bertahan di area support mid line pada pola up channel di posisi 8.950. Kemampuan indeks bertahan di level ini akan membuka ruang penguatan menuju level 9.200, yang menjadi target resistance utama terdekat.
Rita menyebutkan, batas atas Bollinger Bands di level 9.233 bakal memperkuat area tersebut sebagai zona uji kenaikan lanjutan. Secara tren, ujar sosok yang identik sebagai edukator investasi ini, IHSG masih bergerak di atas exponential moving average (EMA) 50 pada level 8.691 dan EMA 100 di level 8.391.
Selain itu, lanjut dia, pergerakan IHSG juga tercatat berada di atas MA 150 dan MA 200, alias menunjukkan tren menengah hingga panjang yang masih relatif terjaga. Kondisi ini tercermin dalam penilaian Minervini Trend Score (MTS), dengan IHSG memenuhi tujuh dari delapan kriteria tren.
Sementara itu, Rita menyampaikan, indikator RSI berada di level 57,8 dan mencerminkan kondisi pasar yang netral dan belum memasuki area jenuh beli maupun jenuh jual. Dalam hasil riset ini, Tim Riset IIE juga memetakan beberapa level resistance mingguan yang umumnya menjadi tahapan kenaikan IHSG.
Pada level Resistance 1 (R1) di 9.137 dipandang sebagai batu sandungan yang perlu dilewati, agar penguatan bisa berlanjut. Jika level ini sukses ditembus, maka ada peluang bagi IHSG menuju R2 di 9.324 sebagai level pengujian lanjutan sekaligus memicu aksi wait and see. Nah, R3 di level 9.473 dipandang sebagai resistance yang lebih kuat dan bisa menjadi area pembatas kenaikan, karena pada level ini potensi aksi profit taking cenderung meningkat.
Rita juga menyoroti potensi skenario koreksi, apabila tekanan jual berlanjut. Dalam skenario negatif, ujar pendiri Cuan Lovers Community (CLC) ini, IHSG diproyeksikan menguji area last low di level 8.715 sebagai penyangga awal pergerakan. Kalau level ini ditembus, maka potensi koreksi lanjutan bisa saja membawa IHSG menuju posisi 8.275, yang merupakan support teknikal penting.
Untuk perspektif mingguan, menurut dia, area support berada pada Support 1 (S1) di level 8.801, S2 di level 8.652 dan S3 di 8.465, yang berfungsi sebagai lapisan penyangga penurunan secara bertahap apabila tekanan jual meningkat. Adapun batas bawah Bollinger Bands berada di level 8.523 dan bisa menjadi acuan volatilitas kalau pola koreksi berlangsung lebih dalam.
Rita menegaskan, rekomendasi dan komentar saham ini merupakan hasil riset IIE yang bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu, sehingga investor harus tetap berhati-hati terhadap setiap rekomendasi saham. Investor juga patut melakukan riset mandiri terhadap masing-masing saham sebelum mengambil keputusan investasi. Adapun saat ini saham pilihan IIE adalah AYAM, KIJA, ADRO, INCO, LPKR, ADMR dan BUMI. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
