
RollingStock.ID – Harga emas mencetak sejarah baru dengan menembus level USD5.300 per ons untuk pertama kalinya, lantaran didorong lonjakan permintaan aset safe-haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, serta sikap Federal Reserve yang kembali menahan suku bunga acuan.
Reli tajam tersebut menegaskan pergeseran sentimen pasar yang semakin defensif ketika investor mencari perlindungan dari inflasi yang membandel dan arah kebijakan moneter yang belum pasti. Berdasarkan laporan Reuters di Bengaluru, Rabu (28/1) atau Kamis (29/1) dini hari WIB, emas spot melonjak 2,2 persen menjadi USD5.301,60 per ons pada pukul 02.40 WIB, setelah sebelumnya menyentuh rekor intraday USD5.325,56 per ons.
Pada saat yang sama, emas berjangka Amerika Serikat untuk kontrak Februari 2026 ditutup melesat 4,3 persen ke level USD5.303,60 per ons, yang menandai akselerasi reli logam mulia sejak awal tahun. Menurut Vice President Zaner Metals, Peter Grant, reli di pasar logam mulia seolah sudah bergerak dengan sendirinya.
Namun demikian, kondisi saat ini mengingatkan bahwa emas berada di wilayah jenuh beli dan rentan terkoreksi. Grant menekankan penguatan minat beli setiap kali harga melemah masih membuka ruang kenaikan lanjutan, dengan target berikutnya diperkirakan di sekitar USD5.400 per ons.
Pada sisi kebijakan, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dengan alasan inflasi yang masih tinggi di tengah pertumbuhan ekonomi yang solid, tanpa memberikan sinyal jelas mengenai waktu penurunan suku bunga. Dua Gubernur The Fed, Christopher Waller dan Stephen Miran menyatakan dukungannya terhadap pemangkasan 25 basis poin, namun Chairman The Fed, Jerome Powell menegaskan, inflasi Desember 2025 kemungkinan masih jauh di atas target 2 persen.
Trader logam independent, Tai Wong mengatakan, pasar hanya berfluktuasi setelah pernyataan tersebut, karena tidak ada indikasi bank sentral AS terburu-buru mengubah arah kebijakan, sementara itu Presiden AS, Donald Trump menyatakan akan segera mengumumkan kandidat pengganti Powell.
Sebagai aset safe-haven, emas cenderung diuntungkan dalam ekspektasi suku bunga rendah dan ketidakpastian tinggi, dengan harga sudah melonjak lebih dari 20 persen sejak awal tahun ini. Minat terhadap emas juga datang dari sektor kripto, setelah Tether berencana mengalokasikan 10-15 persen portofolio investasinya ke emas fisik.
Untuk pasar logam mulia lainnya, perak spot meningkat 0,7 persen ke USD113,78 per ons, meski analis Standard Chartered memperingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek. Platinum menurun 1 persen ke USD2.612,81 per ons, sementara itu paladium justru melambung 3,9 persen ke posisi USD2.009,69 per ons. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
