Saham Spekulatif Rontok, Investor Institusi Borong Saham Fundamental

bei5
Ilustrasi – (Foto: Milva Sary)

RollingStock.ID – Tekanan pasar dan kejatuhan sejumlah saham berharga mahal pada perdagangan hari ini justru dimanfaatkan investor institusi untuk mengakumulasi saham berfundamental kuat. Koreksi tajam yang terjadi pada perdagangan awal pekan ini dinilai sebagai proses seleksi alam, terutama terhadap saham-saham bervaluasi tinggi yang selama ini bersifat spekulatif atau uninvestable.

Menurut Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Dana Anagata Nusantara (Danantara Indonesia), Pandu Sjahrir tekanan pasar yang terjadi merupakan cerminan pergeseran minat investor, dari saham spekulatif menuju saham-saham berfundamental kuat dan valuasi yang lebih sehat.

“Kalau dilihat saham-saham yang fundamental, itu malah mengalami net buy dan positif,” ucap Pandu saat ditemui di di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (2/2). Dia menilai, hari ini sejumlah saham berfundamental kuat justru mencatatkan kinerja positif.

Dia mengatakan, meskipun dalam jangka pendek aktivitas pasar terlihat menurun, sejumlah indikator justru menunjukkan sinyal yang konstruktif. Salah satunya adalah terjadinya net foreign buy pada paruh pertama perdagangan hari ini. Selain itu, tampak pula peningkatan akumulasi pada sejumlah saham berfundamental kuat.

Pandu mengungkapkan, koreksi pada saham-saham berharga mahal menjadi konsekuensi logis, seiring investor —khususnya ritel— mulai lebih selektif. Saham-saham dengan valuasi yang terlalu tinggi mengalami tekanan, sementara itu saham fundamental justru mencatatkan pembelian bersih, terutama dari investor institusi.

Lebih lanjut, dia menambahkan, dinamika tersebut sejalan dengan pembahasan yang sebelumnya dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), yang mengharapkan pasar bergerak lebih rasional dengan berbasis fundamental dan valuasi.

Pandu mengingatkan, kondisi pasar saat ini tidak perlu disikapi dengan kepanikan. Investor diminta tidak semata berfokus pada pergerakan jangka pendek, melainkan mempertimbangkan potensi investasi jangka menengah hingga panjang. “Investasi itu harus medium sampai long term. Jangan hanya karena satu hari pasar merah, lalu panik. Kembali lagi ke fundamental, valuasi dan likuiditas,” tegasnya.

Menurut Pandu, saat ini Danantara mulai aktif melakukan pembelian saham di pasar, dengan strategi investasi yang difokuskan pada perusahaan dengan valuasi menarik, arus kas yang kuat, serta fundamental dan likuiditas yang solid. “Kami membeli saham-saham yang memiliki valuasi menarik, perusahaan yang baik dengan cashflow, fundamental dan likuiditas yang solid,” tuturnya. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top