
RollingStock.ID – Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir melontarkan kritik terhadap persoalan struktural pasar modal yang selama ini dianggap menghambat kepercayaan investor global.
Menjelang rencana dialog antara MSCI dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sore ini waktu Indonesia, Pandu menegaskan bahwa isu utama pasar bukan fluktuasi jangka pendek, melainkan fondasi transparansi yang belum kokoh.
Menurut dia, keterbukaan informasi pemegang saham masih menjadi titik terlemah pasar modal Indonesia. “Yang paling penting dari sisi keterbukaan. Ini saya sebagai investor atau sebagai market participant, yang paling penting salah satunya adalah soal keterbukaan informasi pemegang saham,” ujarnya di Gedung BEI Jakarta, Senin (2/2).
Dia juga menyoroti minimnya partisipasi dana pensiun (dapen), karena keterbatasan regulasi di dalam UU P2SK yang membuat dapen belum leluasa masuk ke bursa saham. Pandu meyakini, kehadiran dapen akan memperkuat likuiditas dan membuka ruang bagi peningkatan porsi saham beredar (free float) menjadi minimal 15 persen.
“Karena itu juga memerlukan market buyer dan selling. Jadi ini semua bertahap. Tetapi kami harus komunikasikan step by step-nya, yang penting make sense. Dan jangan lupa, MSCI juga memberi waktu sampai Mei,” tuturnya. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
