
RollingStock.ID – DBS Bank menegaskan kembali sikap positifnya terhadap pasar saham Indonesia dengan mempertahankan rekomendasi overweight, meskipun pasar global dibayangi isu rebalancing indeks dan risiko penurunan bobot Indonesia di emerging markets.
Pada laporan CIO Perspectives bertajuk “Indonesia’s Rebalancing Fears” yang dikutip Selasa (3/2), DBS menilai bahwa tekanan yang terjadi lebih bersifat teknis dan belum mengubah daya tarik Indonesia sebagai tujuan alokasi dana investasi global.
Berdasarkan laporan yang didistribusikan PT Bank DBS Indonesia ini, rekomendasi overweight tersebut mencerminkan pandangan DBS bahwa porsi investasi di saham Indonesia layak dipertahankan lebih besar dibandingkan pasar lain dalam kelas aset yang sama.
Penilaian tersebut didorong kombinasi valuasi yang semakin murah, prospek pertumbuhan laba 2026 yang kuat, serta ketahanan ekonomi domestik yang dinilai tetap solid di tengah peningkatan aksi wait and see investor global.
DBS mencatat koreksi tajam yang sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari (28 dan 29 Jnauari 2026) hingga 8 persen, justru membuka ruang akumulasi, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Saat ini rasio price to earnings (PE) IHSG dan LQ45 berada di bawah rata-rata historisnya, sehingga secara relatif lebih menarik dibandingkan banyak pasar emerging markets lainnya yang telah lebih dulu pulih. Hari ini (3/2) IHSG bermain di zona hijau dan sempat menyentuh 8.087 atau melonjak 2,08 persen.
Sentimen negatif pasar sebelumnya dipicu evaluasi penyedia indeks global, MSCI terhadap aspek free float, transparansi kepemilikan dan likuiditas sejumlah saham di Indonesia. MSCI memberikan tenggat waktu hingga Mei 2026 bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan perbaikan.
Jika tidak terpenuhi, maka bursa saham Indonesia berisiko mengalami penyesuaian bobot di indeks emerging markets, meski reklasifikasi ke frontier market dinilai sebagai skenario dengan probabilitas rendah.
DBS menilai, kekhawatiran yang terjadi dalam beberapa hari terakhir cenderung berlebihan, karena tekanan pasar lebih mencerminkan respons jangka pendek terhadap ketidakpastian, sedangkan langkah-langkah perbaikan mulai terlihat.
OJK sudah menetapkan batas minimum free float sebesar 15 persen bagi emiten dan sejumlah emiten besar merespons dengan rencana buyback saham untuk meningkatkan likuiditas dan menstabilkan harga.
Dalam skenario terburuk sekalipun, DBS menilai bahwa pasar saham Indonesia tetap memiliki posisi strategis. Jika direklasifikasi menjadi frontier market, bursa nasional akan menjadi pasar terbesar di kategori tersebut dan tetap menjadi komponen penting dalam portofolio investor institusional global, sehingga potensi arus keluar dana diperkirakan tidak akan bersifat permanen.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di level 5 persen, dukungan konsumsi domestik, bonus demografi dan peran Indonesia sebagai penerima manfaat dari siklus komoditas global, maka DBS memandang bahwa prospek jangka menengah pasar saham Indonesia tetap menarik. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
