Yen Tertekan Sentimen Politik, Dolar Didukung Sinyal Inflasi

dolar as
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Dolar Amerika Serikat menguat terhadap yen, sehingga menempatkan mata uang Jepang ini berada di jalur pelemahan untuk hari keempat berturut-turut. Kondisi ini seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar menjelang pemilu Jepang yang diperkirakan bisa mendorong ambisi fiskal dan peningkatan belanja pertahanan Perdana Menteri, Sanae Takaichi.

Menurut laporan Reuters, tekanan politik tersebut membuat yen semakin rentan di tengah sentimen global yang masih berhati-hati. Penguatan greenback juga terjadi terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya, termasuk euro dan poundsterling, setelah data Institute for Supply Management menunjukkan sektor jasa AS tetap stabil pada Januari.

Namun demikian, kenaikan biaya input memunculkan sinyal potensi kebangkitan kembali inflasi jasa, usai sebelumnya mereda, demikian disampaikan Reuters dari New York, Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB, sehingga membuat pelaku pasar kembali mencermati arah kebijakan moneter The Fed.

Ketidakpastian pasar bertambah setelah penutupan sebagian pemerintahan AS dan menunda rilis sejumlah data ketenagakerjaan penting yang semula dijadwalkan pada Jumat pekan ini. Penundaan tersebut membuat pergerakan dolar masih tertahan dalam kisaran terbatas, sedangkan investor menimbang apakah pelemahan saham teknologi mencerminkan kondisi risk-off klasik yang biasanya menguntungkan dolar.

Yen terakhir tercatat melemah 0,7 persen ke level 156,82 per dolar AS dan secara keseluruhan sudah terdepresiasi lebih dari 2 persen sejak 30 Januari 2026. Pelemahan ini diperparah pernyataan Takaichi di awal pekan yang menyoroti manfaat mata uang lebih lemah, meski kemudian ditarik kembali, serta bantahan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent atas spekulasi intervensi Washington untuk menopang yen dan menegaskan kebijakan AS tetap mendukung penguatan dolar.

Sementara itu, indeks dolar AS meningkat 0,24 persen ke level 97,63, dengan dolar Australia melemah 0,37 persen menjadi USD0,6996 dan euro menurun 0,11 persen ke USD1,1806 menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa. Mengacu pada rangkuman Reuters, saat ini analis menilai bahwa pergerakan mata uang global saat ini terutama digerakkan sentimen terhadap dolar AS di tengah fokus pasar pada risiko pemilu Jepang, prospek inflasi global, serta ketahanan ekonomi dan pasar tenaga kerja AS. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top