
RollingStock.ID – Keputusan Moody’s Investors Service menurunkan outlook (prospek) kemampuan membayar utang Indonesia menjadi “Negatif” langsung memicu sorotan tajam pelaku pasar global, sehingga menambah tekanan terhadap kepercayaan investor yang dalam beberapa pekan terakhir terbilang mulai rapuh.
Mengutip laporan Bloomberg, Jumat (6/2), langkah Moody’s tersebut dipandang sebagai peringatan serius terkait meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan isu tata kelola negara di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Moody’s pada Kamis (5/2) memangkas outlook Indonesia dari “Stabil” menjadi “Negatif”.
Lembaga pemeringkat global tersebut menilai bahwa arah kebijakan pemerintah dalam 15 bulan terakhir semakin sulit diprediksi dan kurang terkoordinasi, sehingga kondisi ini berpotensi melemahkan institusi dan menggerus kekuatan fiskal maupun ekonomi apabila terus berlanjut.
Dalam laporannya, Moody’s juga memperingatkan bahwa peringkat Indonesia yang saat ini di level Baa2 (investment grade) bisa saja diturunkan, jika terjadi kenaikan defisit anggaran secara berkelanjutan, pelemahan nilai tukar yang berkepanjangan, arus modal keluar yang merusak profil eksternal atau penurunan signifikan pada kinerja BUMN.
Bahkan, Moody’s juga menyoroti komunikasi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang efektif, sehingga berisiko melemahkan kredibilitas kebijakan. Terkait dengan kondisi ini, pasar pun bereaksi secara cepat. Reksa dana indeks berbasis di Amerika Serikat yang melacak MSCI Indonesia Index menurun 1,6% pada Kamis dan berkinerja lebih buruk dibandingkan indeks saham AS.
Sementara itu, mengacu pada laporan Bloomberg, kontrak forward rupiah melemah dalam perdagangan luar negeri. Sentimen negatif ini bahkan menutupi kabar positif bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal IV-2025 melampaui ekspektasi pasar. Meskipun pertumbuhan ekonomi secara tahunan di 2025 hanya sebesar 5,11 persen atau berada di bawah asumsi UU APBN 2025 yang sebesar 5,2 persen.
Bloomberg menyampaikan, tekanan terhadap aset Indonesia sebenarnya sudah meningkat sebelumnya, setelah MSCI memperingatkan kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market akibat isu likuiditas dan transparansi pasar saham.
Pada pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mencatat kejatuhan dua hari terburuk sejak 1998, kondisi ini mempertegas cepatnya perubahan sentimen pasar. Sejumlah ekonom dan analis melihat penurunan outlook ini sebagai sinyal peringatan awal.
Ekonom OCBC, Lavanya Venkateswaran menilai bahwa langkah Moody’s berpotensi diikuti lembaga pemeringkat lain, jika ketidakpastian kebijakan terus berlanjut, sedangkan Strategis Pepperstone Group, Michael Brown menyebutkan, laju penurunan sentimen berlangsung sangat cepat dan mencerminkan akumulasi risiko yang telah lama membayangi aset Indonesia.
Beberapa analis lainnya bahkan memperkirakan outlook negatif dapat menekan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS dan memicu arus keluar dana asing, meski Manajer Aset Abrdn Investments menilai bahwa posisi Indonesia masih relatif aman, karena tetap berada pada kategori investment grade (negara yang layak menjadi tujuan investasi)
Pemerintah dan otoritas moneter merespons dengan menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap kuat. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyatakan, penurunan outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental, sementara itu Kementerian Keuangan berkomitmen untuk melanjutkan transformasi ekonomi dan menjaga stabilitas harga, nilai tukar dan sistem keuangan.
Namun dalam jangka pendek, menurut Bloomberg, volatilitas sentimen diperkirakan masih tetap tinggi dan investor global akan mencermati konsistensi kebijakan sebagai faktor penentu apakah peringatan Moody’s akan berujung pada penurunan peringkat penuh dalam 12 hingga 18 bulan mendatang. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
