Emas Terpukul Data Tenaga Kerja AS, Harga Jatuh ke Bawah USD5.000

emas
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga emas melorot hingga menyentuh level terendah dalam hampir sepekan, setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang solid meredam harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.

Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Kamis (12/2) atau Jumat (13/2) dini hari WIB, penembusan level psikologis USD5.000 per ons menjadi titik balik yang memicu tekanan jual lebih dalam di pasar. Emas spot merosot 2,8 persen menjadi USD4.938,69 per ons pada pukul 01.42 WIB, setelah di awal sesi sempat menyentuh posisi terendah sejak 6 Februari.

Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk kontrak pengiriman April ditutup anjlok 2,9 persen ke USD4.948,4 per ons. Menurut analis City Index dan FOREX.com, Fawad Razaqzada, gejolak harga sebelumnya membuat banyak pelaku pasar menempatkan batas kerugian atau stop-loss di bawah USD5.000 dan di atas USD5.100 per ons.

Ketika harga menembus ke bawah batas tersebut, ujar Fawad, penjualan otomatis terjadi secara berantai, sehingga mempercepat penurunan dalam waktu singkat. Tekanan terhadap emas juga datang dari data ekonomi terbaru yang menunjukkan pasar tenaga kerja AS memulai tahun dengan kondisi lebih kuat dari perkiraan.

Data pada Rabu pekan ini memperlihatkan, nonfarm payrolls bertambah 130.000 pekerjaan sepanjang Januari, setelah kenaikan Desember 2025 direvisi menurun menjadi 48.000. Bahkan, tingkat pengangguran di Amerika tercatat ikut hingga menjadi 4,3 persen.

Selain itu, klaim awal tunjangan pengangguran tercatat menyusut menjadi 227.000 pada pekan yang berakhir 7 Februari, mempertegas gambaran ketahanan pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada level tinggi yang lebih lama, untuk memastikan inflasi terus melandai.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS pada Jumat, yang diharapkan memberi petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter bank sentral. Vice President Zaner Metals, Peter Grant memperkirakan, inflasi utama dapat melambat dari 2,7 persen menjadi 2,5 persen atau bahkan 2,4 persen, sehingga berpotensi kembali memicu spekulasi pemangkasan suku bunga dan menjadi sentimen positif bagi emas. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top