
RollingStock.ID – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi setelah sempat melemah signifikan menyusul keputusan interim freeze rebalancing olehh MSCI belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Hal ini disampaikan perseroan dalam kegiatan Media Day di Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
Head of Research & Chief Economist, Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan, penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kepercayaan terhadap transparansi dan kredibilitas pasar saham Indonesia. Menurut dia, kondisi ini tercermin dari berlanjutnya aksi jual bersih atau net outflow investor asing, terutama pada saham berkapitalisasi besar seperti BBCA.
Rully menjelaskan, pihaknya belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan, meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah mengeluarkan kebijakan untuk memperbaiki persepsi, kredibilitas dan tingkat investabilitas pasar. Dia menyebutkan, sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG sudah tinggi, dengan potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing.
Ke depan, kata Rully, arah pergerakan IHSG akan fluktuatif secara jangka pendek, seiring adanya ketidakpastian terkait keputusan akhir MSCI, arah arus modal asing, serta perkembangan sentimen eksternal, seperti prospek pemangkasan suku bunga The Fed dan pergerakan harga komoditas global.
Dari sisi domestik, lanjut dia, peluang penguatan tetap terbuka, apabila kebijakan pemerintah dan OJK mampu menegaskan komitmen terhadap peningkatan tata kelola dan likuiditas pasar. Rully menyampaikan, saham-saham berorientasi domestik masih mendapatkan katalis positif dari inflasi yang rendah dan potensi pemangkasan BI Rate. Namun, Rully menilai, kemungkinan investor tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi MSCI.
Sementara itu, Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas, Francisca Gerungan menyatakan bahwa saat ini kondisi volatilitas pasar menjadi pengingat pentingnya strategi diversifikasi yang disiplin. Dia menekankan, investor sebaiknya tidak terjebak pada euforia jangka pendek dan mempertimbangkan diversifikasi untuk menjaga stabilitas portofolio.
Francisca menjelaskan, reksa dana dapat menjadi instrumen yang efektif, khususnya bagi investor baru yang belum memiliki kapasitas melakukan seleksi saham secara mendalam. Dia menyebutkan bahwa komposisi investor reksa dana di Mirae Asset Sekuritas masih didominasi nasabah ritel sebesar 99 persen, dengan pertumbuhan jumlah nasabah ritel mencapai 15 persen secara tahunan hingga Januari 2026. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
