
RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) membukukan laba bersih Rp5,06 triliun atau meningkat 3,92 persen dibandingkan Tahun Buku 2024 yang senilai Rp4,87 triliun. Capaian ini mencerminkan pertumbuhan profit yang relatif terbatas di tengah penurunan pendapatan bunga dan kenaikan beban operasional.
Berdasarkan laporan keuangan NISP untuk periode berakhir 31 Desember 2025 yang dikutip Minggu (15/2), pendapatan bunga dan syariah bersih (NII) tercatat Rp10,95 triliun atau menurun dibandingkan Rp11,04 triliun pada 2024. Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan pada margin bunga bersih.
Pada periode Januari-Desember 2025, kenaikan pendapatan operasional lainnya tercatat Rp2,14 triliun dari Rp891,21 miliar pada 2024, terbilang cukup membantu dalam menopang total pendapatan operasional menjadi Rp13,09 triliun. Namun demikian, kontribusi ini belum sepenuhnya mengimbangi pelemahan pada komponen pendapatan inti berbasis bunga.
Sementara itu, laba operasional di 2025 tercatat Rp6,4 triliun atau meningkat dari Rp5,71 triliun pada 2024, tetapi beban operasional lainnya juga tetap tinggi sebesar Rp6,16 triliun. Kondisi ini menghasilkan rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) sebesar 47,07 persen, sehingga mencerminkan ruang efisiensi yang terbatas.
Adapun margin laba operasional terhadap total pendapatan operasional berada di posisi 48,89 persen, sementara itu margin laba bersih sebesar 38,66 persen setelah laba sebelum pajak mencapai Rp6,41 triliun dan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp5,06 triliun atau meningkat dibanding Tahun Buku 2024 senilai Rp4,87 triliun.
Pada sisi intermediasi, penyaluran kredit bruto per 31 Desember 2025 tercatat Rp172,91 triliun atau naik tipis 1,74 persen (y-o-y), terdiri dari kredit kepada pihak ketiga Rp172,78 triliun dan pihak berelasi Rp128,13 miliar. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp243,51 triliun, terdiri dari giro Rp84,32 triliun, tabungan Rp56,83 triliun dan deposito berjangka Rp102,37 triliun.
Dengan komposisi tersebut, rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR) berada di level 70,97 persen, yang menunjukkan likuiditas longgar namun mengindikasikan pemanfaatan dana yang belum optimal untuk mendorong ekspansi kredit.
Total aset per 31 Desember 2025 tercatat Rp308,14 triliun dengan total ekuitas Rp43,86 triliun. Dengan demikian, return on assets (RoA) berada di level 1,64 persen dan return on equity (RoE) sebesar 11,53 persen, sehingga mencerminkan tingkat pengembalian yang moderat dan belum menunjukkan akselerasi secara signifikan. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
