Permintaan Aset Safe Haven Melemah, Harga Emas Anjlok Lebih dari 2 Persen

emas
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga emas melorot lebih dari dua persen, seiring dengan melemahnya permintaan aset safe haven setelah muncul tanda kemajuan dalam perundingan Amerika Serikat dan Iran, sementara penguatan dolar AS menambah tekanan di pasar logam mulia.

Berdasarkan laporan Reuters dari Bengaluru, Selasa (17/2) atau Rabu (18/2) dini hari WIB, emas spot melorot 2,2 persen menjadi USD4.884,46 per ons pada pukul 01.30 WIB. Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat kontrak April 2026 ditutup anjlok 2,8 persen ke level USD4.905,90 per ons.

Penguatan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,3 persen terhadap enam mata uang utama membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Analis Kitco Metals, Jim Wyckoff menyatakan, pasar emas saat ini kekurangan sentimen fundamental positif baru yang mampu mendorong harga lebih tinggi.

Dia menilai, tren kenaikan membutuhkan katalis berkala, sedangkan dalam beberapa waktu terakhir belum ada perkembangan signifikan yang mendukung penguatan emas maupun perak.

Sentimen juga dipengaruhi pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengenai Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip utama dalam pembicaraan untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang sudah berlangsung lama, meski belum ada indikasi kesepakatan final dalam waktu dekat.

Pada saat yang sama, delegasi Ukraina dan Rusia menggelar perundingan damai selama dua hari di Jenewa yang dimediasi AS. Menurut Wyckoff, perkembangan diplomasi semacam ini cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas, karena berpotensi meredakan kecemasan pasar.

Dia menambahkan, apabila AS dapat menghindari konflik dengan Iran, maka tingkat kekhawatiran pasar akan menurun, kondisi yang biasanya melemahkan minat terhadap aset lindung nilai seperti emas dan perak.

Saat ini pelaku pasar menantikan risalah rapat Federal Reserve periode Januari yang dijadwalkan rilis pada Rabu, serta laporan Personal Consumption Expenditures AS untuk Desember 2025 pada Jumat. Pasar memperkirakan, The Fed akan memangkas suku bunga yang pertama di 2026 pada Juni. Emas umumnya berkinerja lebih baik dalam kondisi suku bunga rendah.

Pergerakan harga juga dipengaruhi rendahnya aktivitas perdagangan karena sejumlah pasar Asia tutup dalam rangka libur Tahun Baru Imlek, termasuk China, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan dan Singapura. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top