
RollingStock.ID – Harga minyak dunia menurun ke level terendah dalam dua pekan, setelah muncul harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul laporan bahwa kedua negara mencapai kesepahaman awal dalam pembicaraan terkait program nuklir.
Berdasarkan laporan Reuters di New York, Selasa (17/2) atau Rabu (18/2) pagi WIB, minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan internasional ditutup melemah 1,8 persen menjadi USD67,42 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot 0,9 persen ke USD62,33 per barel. Penutupan tersebut merupakan yang terendah bagi Brent sejak 3 Februari dan bagi WTI sejak 2 Februari 2026.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi menyatakan, Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip utama dalam putaran kedua pembicaraan tidak langsung di Jenewa, namun dia menegaskan bahwa hal ini belum berarti kesepakatan final akan segera tercapai.
Perundingan berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah, sedangkan pemimpin tertinggi Iran menegaskan setiap upaya Washington untuk menggulingkan pemerintahannya akan gagal. Pada sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan, kemarin Selat Hormuz sempat ditutup selama beberapa jam, meski belum ada kejelasan apakah jalur pelayaran strategis tersebut sudah sepenuhnya dibuka kembali.
Analis SS WealthStreet, Sugandha Sachdeva mengatakan, pergerakan harga minyak dalam waktu dekat kemungkinan tetap bergejolak. “Harga minyak berpotensi tetap volatile dalam waktu dekat, dengan pergerakan tajam yang lebih dipengaruhi sinyal diplomatik dibandingkan faktor fundamental permintaan dan pasokan,” ujarnya.
Sejauh ini pasar juga mencermati produksi dan pasokan global. Iran bersama sejumlah anggota OPEC, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait dan Irak menyalurkan sebagian besar ekspor minyak melalui Selat Hormuz, terutama ke pasar Asia.
Data Badan Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan bahwa Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC pada 2025, setelah Arab Saudi dan Irak.
Tekanan tambahan terhadap harga datang dari meningkatnya kembali produksi di ladang minyak Tengiz di Kazakhstan setelah sempat mengalami gangguan pada Januari. Dari sisi geopolitik lain, perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi AS juga berlangsung di Jenewa. Presiden AS, Donald Trump mendorong Kyiv untuk segera mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun.
Resolusi damai berpotensi membuka jalan bagi pencabutan sanksi terhadap Moskow, yang dapat mengembalikan minyak Rusia ke pasar global. Berdasarkan data EIA, Rusia merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia pada 2025 setelah AS dan Arab Saudi.
Namun demikian, konflik masih berlanjut, terakhir kali militer Ukraina mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyerang kilang minyak Ilsky di Rusia, sementara itu serangan drone juga dilaporkan terjadi di pelabuhan Taman yang menjadi bagian dari infrastruktur energi Rusia. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
