Laba Bersih Danamon (BDMN) di 2025 Naik 14% Jadi Rp3,97 Triliun, Tapi NIM Merosot

bdmn
PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) membukukan laba bersih (konsolidasian) sebesar Rp3,97 triliun atau bertumbuh 14,03 persen dibandingkan capaian di 2024 senilai Rp3,48 triliun. Sayangnya, net interest margin (NIM) pada tahun lalu tercatat menurun menjadi 7,42 persen.

Berdasarkan laporan keuangan BDMN (konsolidasian) untuk periode berakhir 31 Desember 2025 yang dipublikasi di Jakarta, Jumat (20/2), bank di bawah kendali MUFG Bank Ltd ini mencatatkan  pendapatan bunga sebesar Rp25,94 triliun atau meningkat 5,89 persen (year-on-year).

Sementara itu, beban bunga di 2025 meningkat 9,87 persen (y-o-y) menjadi Rp7,7 triliun dari Rp7,05 triliun, sehingga pendapatan bunga bersih (NII) pada tahun lalu bertumbuh 4,45 persen (y-o-y) menjadi Rp18,25 triliun. Adapun NIM di 2025 sebesar 7,42 persen atau menurun dibandingkan 2024 yang mencapai 7,73 persen.

Pada periode Januari-Desember 2025, laba operasional BDMN meningkat 14,61 persen (y-o-y) menjadi Rp5,46 triliun dari Rp4,76 triliun di periode yang sama 2024. Laba sebelum pajak di 2025 meningkat 14,19 persen (y-o-y) menjadi Rp5,39 triliun, sedangkan laba bersih tahun berjalan mengalami kenaikan 13,51 persen (y-o-y) menjadi Rp4,19 triliun.

Adapun besaran laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di Tahun Buku 2025 sebesar Rp3,97 triliun atau bertumbuh 14,03 persen (y-o-y). Danamon mencatat, return on assets setelah pajak di 2025 meningkat menjadi 1,57 persen dari 1,5 persen di 2024, sedangkan return on equity pada tahun lalu menguat ke 8,27 persen dibandingkan 7,73 persen pada tahun sebelumnya.

Pada sisi kualitas aset, rasio NPL gross di 2025 tercatat membaik menjadi 1,69 persen dari 1,93 persen, sedangkan NPL net menurun menjadi 0,23 persen dari 0,31 persen di 2024. Sementara itu, rasio aset produktif bermasalah terhadap total aset produktif sebesar 0,92 persen alias membaik dari 1 persen.

Tingkat cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) terhadap aset produktif di 2025 berada di level 3,64 persen dibandingkan 4,21 persen pada 2024. Rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) pada tahun lalu tercatat 25,37 persen, terbilang tetap kuat meskipun mengalami penurunan dari 27,15 persen pada 2024.

Untuk sisi balance sheet (konsolidasian), per 31 Desember 2025 total aset BDMN mencapai Rp275,71 triliun atau bertumbuh 11,19 persen dari posisi per 31 Desember 2024 yang sebesar Rp247,97 triliun. Kredit yang diberikan hingga akhir 2025 tercatat meningkat 12,51 persen (y-o-y0 menjadi Rp159,29 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) yang terdiri dari giro, tabungan dan deposito meningkat 11,59 persen (y-o-y) menjadi Rp173,53 triliun.

Per 31 Desember 2025, liabilitas BDMN tercatat meningkat 13,76 persen menjadi Rp221,44 triliun dari Rp194,65 triliun per 31 Desember 2024. Total ekuitas hingga akhir 2025 mengalami kenaikan 1,8 persen (y-o-y) menjadi Rp54,27 triliun, sedangkan posisi kas Rp2,95 triliun atau lebih tinggi 17,78 persen dibandingkan akhir 2024 yang senilai Rp2,5 triliun. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top