Transformasi Terintegrasi Dorong SSMS Menuju Siklus Laba Baru Hingga 2028

ssms
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menilai, prospek industri kelapa sawit nasional tetap positif, seiring dengan meningkatnya kebutuhan minyak nabati global, dukungan program biodiesel dan perbaikan tata kelola industri. Meski ada dinamika harga minyak sawit mentah (CPO) dan tantangan global, industri sawit dianggap masih menjadi salah satu penopang perekonomian Indonesia.

Menurut Direktur Utama SSMS, Jap Hartono dalam siaran pers yang diterbitkan di Jakarta, Senin (23/2), dalam menghadapi tantangan industri tersebut, perseroan terus memperkuat efisiensi operasional dan optimalisasi produktivitas kebun guna dapat menjaga daya saing dan kinerja perusahaan.

Dia menyebutkan, strategi pengendalian biaya dan pengelolaan operasional yang terintegrasi menjadi fokus utama SSMS dalam merespons perkembangan industri. Emiten di bawah kendali PT Citra Borneo Indah ini juga berkomitmen untuk menerapkan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari strategi jangka Panjang.

“Penerapan praktik perkebunan yang bertanggung jawab, serta kepatuhan terhadap regulasi menjadi landasan SSMS dalam mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan,” ujar Jap Hartono.

Berdasarkan riset terbaru dari PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia dan PT MNC Sekuritas, langkah strategis SSMS dinilai bisa memperkuat posisi perusahaan di pasar. Akuisisi 63,4 persen saham PT Sawit Mandiri Lestari (SML) senilai Rp1,6 triliun menambah total cadangan lahan (land bank) grup menjadi 136 ribu hektare.

Disebutkan dalam siaran pers SSMS, saat ini SML memiliki profil tanaman dengan rata-rata usia 8,5 tahun dan didukung dua pabrik kelapa sawit (PKS) dengan total kapasitas 135 metrik ton per jam. Perseroan juga melakukan ekspansi hilir melalui pembangunan Refinery 2 berkapasitas 1.500 metrik ton per hari yang progres pembangunannya sudah mencapai 70%.

Jika pembangunan Refinery 2 telah selesai, maka total kapasitas pemurnian akan mencapai 4.000 metrik ton per hari. Selain itu, SSMS mengembangkan integrasi vertikal melalui model perkebunan sawit dan peternakan sapi, termasuk fasilitas rumah potong hewan dan pengolahan susu sebagai bagian dari diversifikasi pendapatan.

Pada sisi operasional, posisi logistik yang efisien dengan akses jalan langsung menuju kompleks kilang SBI disebut mampu meningkatkan efisiensi biaya. Analis memproyeksikan, SSMS memasuki fase kenaikan laba hingga 2028, dengan produksi tandan buah segar (FFB) bisa mencapai sekitar 24 ton per hektare di 2026 dan Oil Extraction Rate (OER) membaik ke level 26-27 persen.

Saat ini Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan “Buy” pada saham SSMS, dengan target harga (TP) Rp2.300, sementara itu MNC Sekuritas memberikan rekomendasi “Buy” dengan TP di level 2.000. Perhitungan target ini disebut telah mempertimbangkan peningkatan kualitas aset perkebunan dan integrasi hilir SSMS. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top