
RollingStock.ID – Yen Jepang tersungkur tajam setelah adanya keberatan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi terhadap rencana kenaikan suku bunga lanjutan yang disampaikan kepada Gubernur Bank of Japan (BOJ), Kazuo Ueda.
Informasi yang dikabarkan Reuters tersebut segera mengguncang sentimen pasar, karena memunculkan dugaan adanya tekanan politik terhadap independensi bank sentral, sebuah isu sensitif dalam arsitektur kebijakan moneter modern.
Jika informasi itu akurat, maka pasar membaca sinyal potensi friksi antara pemerintah dan BOJ dalam menentukan arah normalisasi kebijakan. Situasi ini dinilai dapat menghambat fleksibilitas Bank Sentral Jepang dalam menetapkan waktu kenaikan suku bunga, terutama ketika ekspektasi inflasi mulai menguat dan volatilitas nilai tukar meningkat.
Menurut Currency Strategist Scotiabank, Eric Theoret, kekhawatiran investor berakar pada indikasi perbedaan pandangan yang tidak biasa antara otoritas fiskal dan moneter. Meski Ueda sebelumnya pertemuan dengan Takaichi hanya pertukaran pandangan mengenai kondisi ekonomi dan keuangan, pasar tetap menangkap adanya risiko intervensi kebijakan yang bisa mengganggu kredibilitas bank sentral.
Ironisnya, survei Reuters pekan lalu menunjukkan bahwa mayoritas ekonom memperkirakan BOJ tetap akan menaikkan suku bunga acuan hingga 1 persen pada akhir Juni 2026. Bahkan, sebagian pelaku pasar memproyeksikan pengetatan bisa terjadi pada April, terdorong tekanan inflasi yang meningkat dan pelemahan yen yang memperbesar biaya impor.
Analis LMAX Group menilai, tekanan inflasi yang persisten —khususnya dari sektor jasa serta prospek kenaikan upah— memperkuat argumentasi untuk normalisasi kebijakan moneter. Namun BOJ diperkirakan bakal menempuh jalur bertahap, guna memitigasi risiko terhadap stabilitas sektor perbankan dan pelaku usaha kecil yang sensitif terhadap lonjakan biaya pinjaman.
Pada pasar global, yen tercatat melemah 0,69 persen ke level 155,74 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) meningkat 0,14 persen menjadi 97,82, dengan euro terkoreksi tipis 0,03 persen ke 1,178 dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan penguatan greenback di tengah kombinasi ketidakpastian kebijakan moneter Jepang dan dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Fokus investor juga tertuju pada langkah Washington, setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif yang sebelumnya diberlakukan Presiden Donald Trump melalui undang-undang darurat. Saat ini pemerintah AS menerapkan tarif impor global sementara sebesar 10 persen dengan rencana kenaikan hingga 15 persen berdasarkan Section 122, yang mensyaratkan persetujuan Kongres jika ingin diperpanjang setelah 150 hari.
Dengan adanya dinamika tersebut, yuan offshore China menguat 0,16 persen ke 6,878 per dolar, sementara itu pasar juga mencermati perkembangan diplomasi antara AS dan Iran, setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi menyebutkan bahwa kesepakatan nuklir “sudah dalam jangkauan” menjelang perundingan lanjutan di Jenewa. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
