
RollingStock.ID – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menargetkan pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 71 persen pada periode ekspansi hingga 2027, seiring rencana peningkatan kapasitas produksi secara signifikan.
Mengacu pada materi diskusi CAMARO bertajuk “Menakar Srategi Transformasi TPIA di Tengah Dinamika Industri” yang disampaikan Direktur TPIA, Suryandi, target pertumbuhan CAGR hingga 71 persen itu tercermin dari proyeksi total volume produksi Chandra Asri Group yang meningkat dari 4.232 ribu ton di 2024 menjadi 21.155 ribu ton pada 2027 (proforma) atau mencapai lima kali lipat.
Pada 2025, menurut Suryandi, total volume produksi sebanyak 4.440 ribu ton dan meningkat menjadi 8.301 ribu ton, termasuk tambahan kontribusi dari lini refinery yang meliputi bitumen sebanyak 1.430 ribu ton, gasoil 2.969 ribu ton, gasoline 3.169 ribu ton, fuel 1.727 ribu ton dan lainnya sebanyak 735 ribu ton, serta ada tambahan kapasitas HDPE sebesar 440 ribu ton.
Selanjutnya pada 2027 (proforma), kata Suryandi, peningkatan kapasitas didukung tambahan produk B1 sebanyak 440 ribu ton, MTBE sebanyak 131 ribu ton, chlor-alkali 400 ribu ton, ethylene dichloride mencapai 450 ribu ton, serta tambahan kapasitas refinery sebanyak 2.511 ribu ton.
“Dengan rekam jejak pertumbuhan yang konsisten, Chandra Asri telah berkembang dari akar lokal menjadi perusahaan petrokimia terbesar keempat di Asia Tenggara,” demikian disampaikan Suryandi.
Dia menyebutkan, ekspansi pada periode 2024-2027 ditopang sejumlah inisiatif strategis, termasuk Aster, Aster Polymer Solutions, CSU Restart, ekspansi MTBE dan Butene-1, serta ekspansi CA-EDC. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pertumbuhan terintegrasi TPIA yang berlandaskan integrasi, ketahanan dan keberlanjutan.
Sejauh ini perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu ini tengah memperkuat platform inti dengan meningkatkan skala dan keunggulan struktural di bisnis kimia, energi dan infrastruktur, memaksimalkan nilai aset inti petrokimia dan energi, bahkan mengoptimalkan integrasi antara feedstock, produksi, utilitas maupun logistik.
Suryandi mengungkapkan, platform tersebut menjadi fondasi untuk ekspansi adjacencies dan hilirisasi. Selain itu, tambah dia, perseroan juga memperdalam integrasi vertikal, horizontal dan geografis melalui prioritas investasi untuk memperkuat ketahanan feedstock dan posisi biaya, memperkuat integrasi hilir dan keterkaitan dengan pelanggan, serta membangun sinergi lintas platform, aset dan wilayah.
Guna memperkuat resiliensi, ungkap Suryandi, TPIA membangun ketahanan operasional, rantai pasok dan kinerja keuangan melalui peningkatan keandalan, keselamatan dan utilisasi aset, pengurangan eksposur terhadap volatilitas melalui diversifikasi dan integrasi, serta penguatan disiplin neraca dan keberlanjutan arus kas.
Dia menambahkan, strategi ekspansi TPIA dijalankan secara selektif melalui proyek organik dan akuisisi terarah dengan fokus pada area yang berdekatan secara strategis dan memiliki potensi imbal hasil yang tinggi, termasuk kemitraan teknis, teknologi dan akses pasar.
Sejalan dengan strategi tersebut, perseroan juga mengintegrasikan dekarbonisasi, efisiensi dan ekonomi sirkular dalam strategi pertumbuhan dengan mendorong efisiensi energi dan penurunan emisi di seluruh operasi, mengembangkan material rendah karbon dan menyelaraskan inisiatif keberlanjutan dengan penciptaan nilai komersial.
“Pada 2005, volume produksi Chandra Asri 1.510 ribu ton dan terus bertumbuh hingga tahun 2016 menjadi 3.301 ribu ton dan lalu pada tahun 2024 mencapai 4.232 ribu ton,” ujarnya sembari menegaskan bahwa CAGR di periode 2005-2016 sebesar 7 persen dan sebesar 6 persen pada 2016-2024, yang menjadi fondasi bagi fase ekspansi saat ini. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
