
RollingStock.ID – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana menerbitkan 90 miliar saham baru melalui mekanisme Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PM-HMETD) alias rights issue.
Berdasarkan keterangan BNBR yang publikasikan Rabu (25/2), emiten holding multi-sektor ini bermaksud meminta persetujuan rencana rights issue melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang akan digelar pada 27 Februari 2026.
Manajemen BNBR menyampaikan, rencana rights issue tersebut mempertimbangkan kondisi pasar dan kinerja perseroan, termasuk kinerja yang diproyeksikan dari aset strategis yang baru diambil alih PT Bakrie Toll Indonesia selaku perusahaan terkendali BNBR, yaitu PT Cimanggis Cibitung Tollways pada 2025.
Emiten yang berada di dalam jaringan bisnis Bakrie Group ini menilai bahwa rights issue diperlukan dalam rangka optimalisasi struktur pendanaan terkait pengambilalihan tersebut melalui pembayaran kewajiban BNBR dan anak perusahaan kepada kreditur.
Selain itu, pelaksanaan rights issue juga untuk mendukung modal kerja dan pengembangan usaha BNBR dan anak perusahaan, termasuk PT Cimanggis Cibitung Tollways. Dalam pelaksanaan PM-HMETD, BNBR akan menerbitkan maksimal 90 juta saham baru Seri E bernilai nominal Rp12 per saham.
Penyetoran atas saham baru tersebut akan dilakukan secara tunai dan seluruh saham yang diterbitkan itu akan dikeluarkan dari portepel BNBR dan dicatatkan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Manajemen BNBR menyatakan, pelaksanaan rights issue harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan pemegang saham melalui RUPS LB, penyampaian permohonan pernyataan pendaftaran kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan harus mendapatkan pernyataan efektif dari OJK.
Rencananya, seluruh dana dari hasil rights issue —setelah dikurangi biaya emisi— akan digunakan untuk pembayaran utang BNBR maupun anak perusahaan kepada kreditur, serta untuk modal kerja dan pengembangan bisnis perseroan beserta anak usaha, termasuk PT Cimanggis Cibitung Tollways. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
