Timur Tengah Tegang, Minyak Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Januari 2025

perang iran
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak dunia melonjak dan mencatat setelmen tertinggi sejak Januari 2025, seiring memanasnya pertempuran antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang mengganggu pengiriman minyak dari Timur Tengah. Ketegangan yang memasuki hari keempat perang meningkatkan risiko gangguan pasokan riil di kawasan vital tersebut.

Berdasarkan laporan Reuters di New York, Selasa (3/3) atau Rabu (4/3) pagi WIB, minyak mentah berjangka Brent ditutup melesat USD3,66 atau 4,7 persen menjadi USD81,4 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak USD3,33 atau 4,7 persen ke USD74,56 per barel, tertinggi sejak Juni 2025. Sejak konflik dimulai pada Sabtu (28/2), harga Brent melambung 12 persen dan sempat menyentuh level intraday USD85,12 per barel atau tertinggi sejak Juli 2024.

Serangan udara Israel dan AS ke sejumlah target di Iran dibalas dengan serangan terhadap sasaran energi regional dan kapal tanker di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Media Iran melaporkan, Teheran akan menembak setiap kapal yang mencoba melintas di selat tersebut.

Sejumlah perusahaan asuransi membatalkan perlindungan kapal, tarif pengiriman melonjak tajam dan banyak kapal tanker, serta kontainer menghindari jalur itu. Analis Standard Chartered menilai, respons Iran kali ini lebih luas dibandingkan aksi simbolis sebelumnya, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan.

Presiden AS, Donald Trump mengatakan, serangan udara diperkirakan berlangsung empat hingga lima pekan, meski tidak menutup kemungkinan lebih lama dan menyebutkan bahwa Washington mempertimbangkan dukungan asuransi bagi kapal tanker minyak.

Analis Price Futures Group, Phil Flynn mengatakan, pasar melihat peluang penyelesaian lebih cepat, setelah Trump menyebut banyak target angkatan laut dan udara Iran telah dilumpuhkan.

Irak memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari dan berpotensi menambah pemotongan akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan karena ekspor terhambat. Qatar menghentikan produksi LNG, Israel menutup beberapa ladang gas dan Arab Saudi menghentikan operasional kilang terbesarnya. Sementara itu, Saudi Aramco mengalihkan sebagian ekspor ke Laut Merah.

Pada pasar produk olahan, kontrak berjangka minyak solar AS melonjak 10 persen ke level tertinggi sejak Oktober 2023 dan bensin AS melompat hampir 4 persen ke USD2,46 per galon. Saat ini pelaku pasar menanti laporan persediaan minyak dari American Petroleum Institute dan Energy Information Administration, dengan proyeksi kenaikan stok minyak mentah AS sebanyak 2,3 juta barel pada pekan yang berakhir 27 Februari 2026. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top