
RollingStock.ID – Pada akhir 2025, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan rasio kredit bermasalah (NPL) mencapai 2,6 persen atau melonjak dibandingkan per 31 Desember 2024 sebesar 2,27 persen. Secara nominal, kredit bermasalah Superbank mencapai Rp249,9 miliar alias membengkak 71 persen dari Rp145,9 miliar pada akhir 2024.
Berdasarkan laporan keuangan SUPA untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, rasio NPL neto tercatat sebesar 0,68 persen dari 0,35 persen pada akhir 2024. Kondisi ini sekaligus mencerminkan adanya peningkatan tekanan kualitas kredit di tengah ekspansi pembiayaan secara agresif.
Pada sisi balance sheet, per 31 Desember 2025 total aset Superbank melonjak 87 persen menjadi Rp21,28 triliun dari Rp11,39 triliun per 31 Desember 2024. Lantaran, jumlah kredit yang diberikan (neto) sebesar Rp9,19 triliun per akhir 2025 atau melonjak 52 persen (year-on-year).
Seiring dengan pertumbuhan portofolio kredit tersebut, beban kerugian penurunan nilai aset keuangan di 2025 melambung menjadi Rp319,7 miliar dari Rp101,9 miliar pada 2024. Kenaikan pencadangan ini tercermin pada rasio biaya kredit yang mencapai 3,47 persen terhadap total kredit bersih.
Sementara itu, pencadangan untuk kredit bermasalah sebesar Rp184,1 miliar pada 2025 dibandingkan setahun sebelumnya Rp123,6 miliar. Dengan nilai kredit bermasalah mencapai Rp249,9 miliar, maka rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (coverage ratio) menjadi 73,7 persen atau menurun dibandingkan pada 2024 sebesar 84,7 persen.
Sepanjang 2025, SUPA mencatatkan pendapatan bunga sebesar Rp2,16 triliun atau mengalami kenaikan dibandingkan sepanjang 2024 senilai Rp743,98 miliar. Namun beban bunga melambung menjadi Rp587 miliar dibandingkan setahun sebelumnya senilai Rp137,1 miliar.
Pada periode Januar-Desember 2025, pendapatan bunga bersih (NII) tercatat Rp1,58 triliun, yang menghasilkan margin bunga bersih terhadap kredit sebesar 17 persem. Meski terlihat tinggi, lonjakan beban bunga hingga 328,1 persen tersebut menunjukkan biaya dana yang membengkak seiring ekspansi pendanaan.
Pada Tahun Buku 2025, Superbank tercatat tercatat membukukan laba bersih Rp99,7 miliar pada 2025 atau berbanding terbalik dengan Tahun Buku 2024 yang menderita rugi bersih mencapai Rp366,4 miliar. Tetapi dengan total aset sebesar Rp21,28 triliun, maka laba tersebut menghasilkan rasio pengembalian aset (ROA) sebesar 0,47 persen.
Per 31 Desember 2025, total ekuitas Superbank sebesar Rp8,16 triliun, dengan tingkat pengembalian terhadap ekuitas (ROE) sebesar 1,2 persen dan sekaligus mencerminkan bahwa tingkat profitabilitas masih relatif rendah dibandingkan skala permodalan bank.
Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah hingga akhir 2025 tercatat melonjak 139 persen menjadi Rp11,83 triliun dari Rp4,94 triliun pada akhir 2024. Peningkatan dana pihak ketiga (DPK) ini turut mendorong kenaikan total liabilitas SUPA per 31 Desember 2025 menjadi Rp13,12 triliun dari posisi per 31 Desember 2024 sebesar Rp6,15 triliun.
Hingga akhir 2025, jumlah ekuitas SUPA tercatat meningkat menjadi Rp8,16 triliun dari Rp5,25 triliun pada akhir 2024. Peningkatan ini sebagian besar berasal dari tambahan modal dan agio saham, sementara itu kontribusi laba bersih terhadap pertumbuhan ekuitas relatif terbatas. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
