
RollingStock.ID – Harga minyak dunia tercatat berbalik anjlok, lantaran dipicu peningkatan ekspektasi pasar bahwa Iran akan kembali membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel dalam upaya meredakan konflik yang sempat menutup Selat Hormuz.
Berdasarkan laporan Reuters di Houston, Selasa (14/4) atau Rabu (15/4) pagi WIB, harga minyak mentah berjangka Brent sebagai acuan internasional ditutup merosot 4,6 persen atau USD4,57 ke level USD94,79 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan AS anjlok terperosok 7,87 persen atau USD7,80 menjadi USD91,20 per barel.
Koreksi tajam ini terjadi setelah reli signifikan pada sesi sebelumnya, ketika Brent sempat melonjak lebih dari 4 persen dan WTI hampir 3 persen. Kenaikan ini didorong aksi militer AS yang menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran, sehingga memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Namun, sentimen pasar berbalik arah seiring munculnya harapan terkait adanya upaya menempuh jalur diplomasi. Pelaku pasar mulai melakukan kalkulasi potensi meredanya ketegangan geopolitik. John Kilduff, mitra di Again Capital menyatakan, sebelumnya pasar telah mengantisipasi disrupsi pasokan dalam skala besar, sehingga muncul ruang koreksi ketika prospek stabilisasi mulai terlihat.
Secara struktural, harga Brent dinilai lebih responsif terhadap dinamika pasokan global dibandingkan WTI yang lebih mencerminkan kondisi distribusi domestik AS dan aliran ekspor ke kawasan Amerika Latin. Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa pelemahan harga belum sepenuhnya merefleksikan realitas gangguan pasokan fisik.
Tamas Varga dari PVM Oil Associates menegaskan, sebagian volume minyak saat ini masih terhambat distribusinya akibat eskalasi konflik, sedangkan International Energy Agency (IEA) mengungkapkan, gangguan pasokan akibat serangan terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz olehh Iran merupakan yang terbesar dalam sejarah modern, dengan kehilangan pasokan mencapai 10,1 juta barel per hari pada Maret.
IEA menekankan, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor kunci dalam menstabilkan pasokan energi, menahan tekanan harga dan menjaga keseimbangan perekonomian global. Pada sisi lain, militer AS menyatakan perluasan blokade hingga mencakup Teluk Oman dan Laut Arab.
Data pelacakan kapal menunjukkan adanya perubahan rute yang dilakukan sejumlah kapal tanker, meskipun beberapa kapal terkait Iran tetap diizinkan melintas karena tujuan akhirnya bukan pelabuhan domestik Iran. Ketegangan geopolitik juga meningkat setelah Iran mengancam akan melakukan aksi balasan terhadap pelabuhan di kawasan Teluk sebagai respons atas blokade tersebut.
Sumber diplomatik menyebutkan, delegasi AS dan Iran berpotensi kembali melanjutkan perundingan di Islamabad dalam waktu dekat. Pejabat AS mengindikasikan komunikasi masih berlangsung intensif, sedangkan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif menegaskan proses diplomasi tetap berjalan.
Kendati demikian, risiko lonjakan harga tetap terbuka lebar apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan konkret. Varga memperingatkan, kegagalan diplomasi bisa mendorong harga kembali ke level puncak Maret 2026, terutama di tengah tren penurunan persediaan minyak global yang diproyeksikan berlanjut hingga kuartal ketiga.
IEA juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan pasokan dan permintaan minyak global. Permintaan untuk 2026 dipangkas 80.000 barel per hari, sedangkan pasokan diperkirakan menyusut 1,5 juta barel per hari. Adapun ekspor produk minyak Rusia dari pelabuhan Tuapse di Laut Hitam untuk April 2026 direvisi naik 60 persen menjadi 1,27 juta metrik ton dari rencana awal 794.000 ton. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
