Minyak Terjun Bebas, Emas Bersinar & Dolar Terdepresiasi Usai Hormuz Dibuka

selat hormuz
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak, emas dan dolar AS bergerak cukup kontras pada akhir pekan ini, setelah perkembangan signifikan di Selat Hormuz. Pembukaan kembali jalur pelayaran yang dilakukan Iran memicu perubahan besar dalam persepsi risiko pasar global, langsung tercermin pada ketiga instrumen tersebut.

Harga minyak mencatat penurunan tajam usai Iran memastikan bahwa seluruh kapal komersial dapat melintas di Selat Hormuz selama periode gencatan senjata. Pernyataan tersebut diperkuat Presiden AS, Donald Trump yang menyebut Iran telah sepakat untuk tidak lagi menutup jalur strategis tersebut

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent ditutup melorot sebesar USD9,01 atau 9,07 persen menjadi USD90,38 per barel, sedangkan minyak mentah WTI anjlok USD10,48 atau 11,45 persen ke level USD83,85 per barel. Kedua kontrak ini bahkan sempat menyentuh titik terendah intraday masing-masing di level USD86,09 dan USD80,56 per barel.

Penurunan tersebut sekaligus mencerminkan hilangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya terbentuk akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Normalisasi arus pelayaran di Selat Hormuz membuat pasar kembali menilai harga minyak berdasarkan fundamental pasokan dan permintaan alias bukan risiko konflik.

Seiring dengan penurunan harga minyak, harga emas justru kembali bersinar, tercermin dari emas spot yang meningkat 1,5 persen menjadi USD4.861,32 per ons dan mencatat kenaikan lebih dari 2 persen di sepanjang pekan, sedangkan kontrak berjangka emas AS ditutup menguat ke USD4.879,6 per ons.

Kenaikan emas didorong kombinasi pelemahan dolar AS dan meredanya tekanan inflasi akibat penurunan harga energi. Kondisi ini tentunya meningkatkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, yang secara historis menjadi katalis positif bagi logam mulia.

Depresiasi dolar AS turut menjadi faktor kunci penguatan emas, lantaran indeks dolar tercatat menurun 0,3 persen menjadi 97,96 atau sudah melemah 0,6 persen di sepanjang pekan. Bahkan, harga emas mencatat penurunan dua pekan sebesar 2,1 persen atau terbesar sejak akhir Januari 2026.

Penurunan dolar terjadi dikarenakan investor mulai melepas aset safe-haven, seiring meningkatnya selera risiko global. Pembukaan Selat Hormuz dan kemajuan negosiasi antara AS dan Iran memicu optimisme bahwa konflik di kawasan tersebut akan segera mereda.

Pada sisi lain, perkembangan geopolitik menunjukkan adanya kemajuan negosiasi antara AS dan Iran terkait penghentian konflik dan pengelolaan uranium. Trump menyatakan, kemungkinan besar kesepakatan akan tercapai dalam waktu dekat, termasuk komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang.

Kendati demikian, sejauh ini pasar tampak masih mencermati risiko lanjutan, termasuk kemungkinan terganggunya kembali jalur pelayaran jika kesepakatan gagal tercapai. Pembukaan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menekan harga minyak, mengangkat emas dan melemahkan dolar AS secara bersamaan. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top