Ekuitas Bank INA (BINA) Terkikis di Saat Laba Bersih Melonjak Jadi Rp52,98 Miliar

bina
PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Hingga akhir Kuartal I-2026, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) mencatatkan ekuitas Rp3,1 triliun atau merosot 6,4 persen dari Rp3,31 triliun per 31 Desember 2025. Penurunan ini justru terjadi ketika laba bersih melonjak 268,8 persen, sehingga mencerminkan adanya tekanan pada kualitas kinerja dan struktur permodalan.

Berdasarkan laporan keuangan Bank INA untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, pelemahan ekuitas perseroan terutama dipicu kerugian penghasilan komprehensif lain (OCI) sebesar Rp266,33 miliar alias meroket 4.900 persen dibandingkan dengan Kuartal I-2025 yang hanya senilai Rp5,33 miliar.

Kerugian tersebut berasal dari penurunan nilai wajar portofolio Efek per 31 Maret 2026 yang mencapai Rp11,76 triliun atau meningkat 12,1 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 yang senilai Rp10,49 triliun. Dalam kondisi suku bunga meningkat, harga obligasi cenderung menurun, sehingga menekan nilai wajar portofolio.

Karena diklasifikasikan sebagai fair value through other comprehensive income (FVOCI), maka kerugian ini tidak tercatat di bagian income statement, melainkan langsung mengurangi ekuitas. Pada gilirannya, cadangan OCI melorot 631 persen (year-to-date) menjadi minus Rp224,12 miliar per 31 Maret 2026 dari positif Rp42,21 miliar pada 31 Desember 2025.

Pada 31 Maret 2026, total penghasilan laba komprehensif tahun berjalan tercatat minus Rp213,35 miliar atau berbanding terbalik dengan kondisi per 31 Desember 2025 yang positif Rp9,04 miliar.

Selama tiga bulan pertama tahun ini, bank milik Salim Group ini membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp52,98 miliar atau melonjak 268,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 senilai Rp14,37 miliar.

Kuartal I-2026, BINA mencatatkan pendapatan operasional lain Rp102,30 miliar atau melesat 715,6 persen (y-o-y), yang sebagian besar ditopang pemulihan kredit dihapusbukukan sebesar Rp91,39 miliar. Dengan demikian, tanpa komponen ini tingkat pertumbuhan laba inti tentunya relatif terbatas.

Pendapatan bunga di 1Q26 tercatat Rp498,86 atau bertumbuh 14,5 persen (y-o-y), namun beban bunga membengkak 19,4 persen (y-o-y) menjadi Rp338,63 miliar. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (NII) hanya mengalami kenaikan 5,5 persen (y-o-y) menjadi Rp160,23 miliar.

Total beban operasional lainnya di Kuartal I-2026 juga ikut membengkak 33 persen (y-o-y) menjadi Rp194,99 miliar, sehingga menunjukkan adanya tekanan pada praktik efisiensi.

Dari sisi balance sheet, total aset BINA tercatat meningkat tipis 0,02 persen (year-to-date) menjadi Rp31,29 triliun, dengan kredit bruto merosot 3,2 persen (y-t-d). Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) per 31 Maret 2026 melorot 8,2 persen (y-t-d) menjadi Rp25,04 triliun.

Penurunan DPK yang lebih besar dibandingkan dengan penyaluran kredit tersebut tentunya mendorong loan-to-deposit ratio (LDR) meningkat dari 55,98 persen menjadi 59,04 persen alias mengalami kenaikan relatif sebesar 5,5 persen. Kenaikan ini sekaligus mencerminkan adanya penyusutan dana dibandingkan dengan ekspansi kredit.

Dalam upaya menjaga likuiditas, BINA juga terpantau meningkatkan penggunaan instrumen repo secara signifikan. Hal ini tercermin dari liabilitas repo per 31 Maret 2026 yang membengkak 768,1 persen menjadi Rp2,61 triliun dari posisi per 31 Desember 2025 yang senilai Rp301,02 miliar.

Sejalan dengan adanya peningkatan kebutuhan pendanaan jangka pendek tersebut, kas dan setara kas Bank INA per akhir Kuartal I-2026 tersisa Rp3,6 triliun atau anjlok 24,2 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp4,75 triliun. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top