Meski Kredit Merosot, Laba BCA (BBCA) di 1Q26 Naik 3,8% Jadi Rp14,68 Triliun

bbca
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami pertumbuhan terbatas sebesar 3,8 persen menjadi Rp14,68 triliun dibandingkan Kuartal I 2025 yang mencatatkan laba bersih diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp14,15 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan BCA untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten milik Djarum Group ini membukukan pendapatan bunga bersih (NII) sebesar Rp21,11 triliun atau menurun dibandingkan pada tiga bulan pertama di 2025 yang mencapai Rp21,12 triliun.

Penurun itu disebabkan beban bunga di Kuartal I-2026 meningkat lebih tinggi hingga 7,3 persen (year-on-year) menjadi Rp3,48 triliun. Sementara itu, pendapatan bunga hanya bertumbuh 0,9 persen menjadi Rp24,59 triliun dari Rp24,37 triliun pada 1Q25. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan pada net interest margin (NIM).

Pada sisi intermediasi, penyaluran kredit BBCA per 31 Maret 2026 justru tercatat mengalami kontraksi 0,03 persen menjadi Rp940,17 triliun dari Rp940,48 triliun per 31 Desember 2025. Sebaliknya, dana pihak ketiga (DPK) bank dibawah kendali PT Dwimuria Investama Andalan ini per akhir Kuartal I-2026 tercatat Rp1.276,41 triliun atau bertumbuh 3,5 persen (year-to-date).

Dengan demikian, kondisi tersebut menyebabkan loan to deposit ratio (LDR) menjadi 73,7 persen atau lebih rendah dibandingkan per 31 Desember 2025 yang sebesar 76,2 persen. Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa terdapat likuiditas BBCA yang belum tersalurkan secara optimal ke kredit.

Per 31 Maret 2026, jumlah kas dan setara kas BCA tercatat Rp117,07 triliun atau meningkat tipis 0,9 persen (y-o-y), sehingga mencerminkan adanya peningkatan likuiditas riil yang belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk melakukan ekspansi pembiayaan.

Mengacu pada laporan keuangan BBCA 1Q2026, kualitas aset juga menunjukkan adanya tekanan, akibat lonjakan beban pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar 19,5 persen menjadi Rp1,23 triliun dari Rp1,03 triliun pada 1Q25. Kondisi ini bisa dibaca sebagai peningkatan biaya risiko, baik akibat perubahan profil risiko kredit maupun pendekatan yang lebih konservatif.

Pada Kuartal I-2026, BCA mencatat kerugian komprehensif lain (OCI) sebesar Rp1,39 triliun alias berbalik dari posisi di Kuartal I-2025 yang bisa meraup penghasilan komprehensif lain senilai Rp365,96 miliar. Perubahan ini terutama disebabkan kerugian belum direalisasi atas portofolio surat berharga sebesar Rp1,83 triliun.

Tekanan tersebut akhirnya berdampak pada struktur permodalan per 31 Maret 2026 yang mencatatkan ekuitas senilai Rp259,36 triliun atau melorot 7,9 persen (y-t-d). Penurunan ini tentunya dipengaruhi adanya pembagian dividen sebesar Rp34,53 triliun maupun dampak negatif dari OCI.

Di tengah pelemahan pertumbuhan kredit, BBCA terpantau meningkatkan alokasi dana pada instrumen investasi. Sejumlah Efek untuk tujuan investasi mengalami kenaikan 4 persen (y-t-d) menjadi Rp425,61 triliun, sedangkan penempatan pada Bank Indonesia (BI) dan bank lain juga meningkat secara signifikan. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top