
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama di 2025, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) hanya mampu meraih laba bersih Rp6,79 miliar atau anjlok 59,9 persen (year-on-year), sehingga defisit per 31 Maret 2026 relatif stagnan di angka Rp3,25 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan AGRO untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, bank digital di bawah kendali PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini membukuka pendapatan bunga sebesar Rp308,35 miliar atau bertumbuh 7,5 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 senilai Rp286,93 miliar.
Sementara itu, beban bunga di Kuartal I-2026 tercatat menurun 9 persen (year-on-year) menjadi Rp112,52 miliar, sehingga pendapatan bunga bersih (NII) melompat 19,9 persen menjadi Rp195,83 miliar dari Rp163,31 miliar pada Kuartal I-2025.
Pada periode Januari-Maret 2026, pendapatan operasional lainnya yang dicatatkam AGRO senilia Rp40,39 miliar alias merosot 5,7 persen (y-o-y). Di sisi lain, penyisihan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) meningkat 29,1 persen (y-o-y) menjadi Rp49,14 miliar, sekaligus mencerminkan risiko kredit yang tetap tinggi.
Selama tiga bulan pertama tahun ini, Bank Raya mencatatkan total beban operasional lainnya sebesar Rp182,16 miliar atau membengkak 24,7 persen (y-o-y). Kenaikan beban ini menekan laba operasional menjadi Rp4,92 miliar atau ambles 77,7 persen (y-o-y).
Pendapatan non-operasional (neto) di 1Q26 tercatat Rp1,87 miliar atau meningkat 50,3 persen dari Rp1,25 miliar pada 1Q25. Namun demikian, laba sebelum pajak di Kuartal I-2026 tercatat melorot 70,9 persen menjadi Rp6,79 miliar dari Rp23,31 miliar pada Kuartal I-2025.
Pada tiga bulan pertama tahun ini, Bank Raya tidak mencatatkan beban pajak, sehingga laba periode berjalan tercatat sama dengan nilai laba sebelum pajak senilai Rp6,79 miliar atau anjlok 59,9 persen dibandingkan laba periode berjalan di tiga bulan pertama 2025 yang sebesar Rp16,92 miliar.
Akibat AGRO hanya meraih laba Rp6,79 miliar, maka defisit saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya relatif stagnan di angka Rp3,25 triliun atau tepatnya sebesar Rp3,248 triliun alias membaik 0,2 persen dibandingkan akumulasi rugi per 31 Desember 2025 sebesar Rp3,255 triliun.
Per 31 Maret 2026, jumlah ekuitas Bank Raya tercatat Rp2,95 triliun atau terperosok 2,1 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp3,01 triliun. Hingga akhir Maret 2026, total liabilitas sebesar Rp9,87 triliun atau menurun 2,1 persen (year-to-date), dengan nilai dana pihak ketiga (DPK) senilai Rp8,44 triliun alias terperosok 11,6 persen (y-t-d).
Namun sebaliknya, simpanan dari bank lain per 31 Maret 2026 terpantau meroket 465,6 persen menjadi Rp1,09 triliun dari senilai Rp192,01 miliar per 31 Desember 2025. Kondisi ini bisa dibaca sebagai upaya perseroan menjaga likuiditas dengan meningkatkan ketergantungan pada pendanaan antarbank.
Hingga akhir Kuartal I-2026, total aset AGRO tercatat Rp12,82 triliun atau menurun 2,1 persen (y-t-d), dengan penyaluran kredit tercatat Rp6,89 triliun alias tersungkur 10,7 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp7,72 triliun.
Sementara itu, itu jumlah kas dan setara kas yang dicatatkan Bank Raya per 31 Maret 2026 tersisa Rp855,44 miliar atau ambles 41,3 persen dibandingkan dengan kondisi per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp1,46 triliun alias mencerminkan adanya penurunan likuiditas. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
