
RollingStock.ID – Sepanjang Kuartal I-2026, PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) mengalami penurunan kinerja, dengan laba bersih yang tertekan dan terdapat indikasi pelemahan kualitas margin pada bisnis inti.
Berdasarkan laporan keuangan untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, laba bersih bank di bawah kendali PT Aladin Global Ventures ini hanya senilai Rp23,32 miliar atau anjlok 30,3 persen dibandingkan Kuartal I-2025 sebesar Rp33,47 miliar.
Pada periode Januari-Maret 2026, total pendapatan pengelolaan dana yang dibukukan bank milik PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) alias Alfamart ini sebesar Rp194,71 miliar atau melorot 10,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 mencapai Rp216,99 miliar.
Namun pada kurun waktu yang sama, beban bagi hasil kepada pemilik dana melonjak 94,5 persen menjadi Rp192,65 miliar dari Rp99,06 miliar di periode Januari-Maret 2025. Kondisi ini menunjukkan dominasi porsi bagi hasil kepada deposan yang tinggi, sehingga ruang margin bagi bank milik PT Lancar Distrindo ini menjadi terbatas.
Sementara itu, hak bagi hasil milik BANK di 1Q26 tercatat Rp95,65 miliar alias melambung 293,1 persen (y-o-y), tetapi kenaikan ini tidak serta-merta mencerminkan perbaikan margin. Pada skema bank syariah, angka ini merupakan hasil dari distribusi bagi hasil, sehingga peningkatan lebih mencerminkan perubahan komposisi distribusi dibandingkan penguatan profitabilitas inti.
Per 31 Maret 2026, emiten terafiliasi dengan PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) melalui PT Capital Life Syariah dan PT Capital Life Indonesia ini mencatatkan pembiayaan musyarakah Rp4,59 triliun (net) atau menurun 1,4 persen (y-t-d). Secara bruto, pembiayaan ini menunjukkan peningkatan, sehingga penurunan secara net terutama dipengaruhi kenaikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN).
Adapun pinjaman qardh juga terpantau menurun 3,2 persen (year-to-date) menjadi Rp499,66 miliar, sedangkan piutang murabahah relatif stabil di angka Rp37,01 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan pada pembiayaan di bank milik PT Cakra Bumi Mandala ini lebih dipengaruhi faktor kualitas aset dibandingkan ekspansi yang melemah secara langsung.
Pembentukan CKPN pada Kuartal I-2026 sebesar Rp15,20 miliar atau melesat 299 persen dibandingkan Kuartal I-2025 yang senilai Rp3,81 miliar, sehingga semakin memperkuat indikasi peningkatan risiko pembiayaan. Total aset BANK per 31 Maret 2026 tercatat Rp14,42 triliun atau menurun 4,8 persen (y-t-d), yang mencerminkan adanya kontraksi neraca.
Pada sisi cash flow periode Januari-Maret 2026, Aladin mencatatkan arus kas bersih yang didapatkan dari aktivitas operasi sebesar Rp819,28 miliar atau meningkat 27,6 persen (y-o-y). Patut diketahui, sebagian besar arus kas operasi ini ditopang aktivitas pendanaan, khususnya penerbitan surat utang sebesar Rp500 miliar dan kenaikan dana syirkah temporer sebesar Rp150,27 miliar.
Sementara itu, pendapatan berbasis komisi dan jasa di Kuartal I-2026 yang dicatatkan emiten milik PT Bhineka Life Indonesia dan PT Pacific Life Insurance ini bertumbuh 35,2 persen menjadi Rp106,92 miliar dari Rp79,08 miliar pada Kuartal I-2025. Sayangnya, kontribusi ini belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari sisi margin dan peningkatan beban pencadangan. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
