The Fed Tahan Suku Bunga, Dolar Menguat dan Emas Tertekan di Tengah Inflasi Global

the fed
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Keputusan Federal Reserve AS untuk mempertahankan suku bunga acuan memicu dinamika mencolok di pasar global, mendorong penguatan dolar AS sekaligus menekan harga emas, seiring dengan peningkatan kekhawatiran inflasi serta risiko geopolitik.

Bank sentral AS ini diketahui telah menahan suku bunga dengan hasil voting 8 banding 4, sehingga menjadikannya salah satu keputusan paling terpecah sejak 1992. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan moneter di tengah tekanan harga energi global dan konflik Timur Tengah.

Berdasarkan laporan Reuters di Washington, empat pejabat menyampaikan dissent, dengan tiga menolak sinyal pelonggaran kebijakan dan satu orang mendukung pemangkasan Fed Funds Rate sebesar 0,25 persen, sehingga menandakan perbedaan tajam dalam menilai kondisi ekonomi yang sedang terjadi.

Pernyataan resmi The Fed menegaskan, sejauh ini tingkat inflasi masih berada pada level tinggi, lantaran dipicu kenaikan harga energi, serta meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik yang dinilai berpotensi memberikan dampak lebih persisten terhadap tekanan harga.

Chairman The Fed, Jerome Powell menyebutkan, meskipun terdapat perbedaan pandangan internal, belum ada kecenderungan untuk menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat, sementara itu arah kebijakan ke depan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi.

Perpecahan tersebut juga terjadi di tengah transisi kepemimpinan, dengan Kevin Warsh diperkirakan akan menggantikan Powell, setelah pencalonannya disetujui Komite Perbankan Senat dan berpeluang untuk membawa pendekatan kebijakan yang lebih tegas terhadap inflasi.

“Pada pasar valuta asing, dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama setelah keputusan tersebut, dengan indeks dolar meningkat 0,35 persen menjadi 98,938, sedangkan euro dan poundsterling masing-masing tercatat melemah terhadap greenback,” demikian disebutkan dalam laporan Reuters di New York

Penguatan dolar turut didorong ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, terutama di tengah lonjakan harga minyak global yang telah melampaui USD100 per barel akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel dan Iran.

Kondisi ini memperketat kondisi keuangan global, karena kenaikan imbal hasil riil AS meningkatkan daya tarik dolar dibandingkan mata uang lain, sekaligus menekan mata uang seperti yen melemah hingga mendekati level yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang.

“Harga emas justru mengalami tekanan, dengan emas spot merosot 1,4 persen ke posisi USD4.528,17 per ons atau level terendah dalam satu bulan, seiring berkurangnya ekspektasi pelonggaran moneter dalam waktu dekat,” demikian disampaikan Reuters dari Bengaluru.

Tekanan pada emas juga dipicu peningkatan kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga energi, sehingga mendorong investor untuk mempertimbangkan kembali posisi mereka di aset safe-haven, meskipun permintaan global tetap menunjukkan kenaikan moderat pada Kuartal I-2026.

Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan The Fed yang cenderung hawkish, penguatan dolar, serta ketidakpastian geopolitik menciptakan lanskap pasar yang kompleks. Arah suku bunga, inflasi dan harga komoditas akan tetap menjadi faktor utama dalam menentukan pergerakan pasar global ke depan. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top