Usai Dirut Kena Kasus Hukum, Laba Bersih PSGO di 1Q26 Melorot dan Kas Terkuras

budiono tanbun
Mantan Direktur Utama PT Palma Serasih Tbk (PSGO), Budiono Tanbun – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Palma Serasih Tbk (PSGO) hanya mampu membukukan laba bersih Rp77,96 miliar atau melorot 14,4 persen dibandingkan dengan Kuartal I-2025 yang sebesar Rp91,06 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan PSGO untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten di bawah kendali PT Jalinankasih Sesama ini mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp527,95 miliar alias merosot 8,7 persen dibandingkan dengan Kuartal I-2025 mencapai Rp578,47 miliar.

Sebelumnya, manajemen PSGO dalam surat resminya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 24 Februari 2026 menyampaikan bahwa, Direktur Utama Palma Serasih, Budiono Tanbun tengah menjalani proses hukum. Atas kasus ini, Dewan Komisaris menunjuk Elisabeth Priska Chairil selaku Wakil Direktur Utama menjadi Pelaksana Tugas Direktur Utama PSGO.

Sejalan dengan kontraksi kinerja di area top line tersebut, beban pokok penjualan yang dicatatkan PSGO menurun 10,9 persen (year-on-year) menjadi Rp336,74 miliar. Dengan demikian, laba bruto di Kuartal I-2026 menjadi Rp191,21 miliar atau lebih rendah 4,6 persen dibandingkan Kuartal I-2025 sebesar Rp200,49 miliar.

Pada periode Januari-Maret 2026, laba usaha emiten yang sahamnya dimiliki investor individu Kelvin Halim dan Che Wai Chan ini tercatat Rp103,91 miliar atau terperosok 17,9 persen (y-o-y). Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan tersungkur 15,4 persen menjadi Rp97,05 miliar dari Rp114,71 miliar pada Januari-Maret 2025.

Dengan adanya beban pajak penghasilan (neto) di 1Q26 sebesar Rp19,09 miliar, maka laba tahun berjalan PSGO menjadi Rp77,96 miliar melorot 14,4 persen dibandingkan 1Q25 sebesar Rp91,06 miliar. Adapun besaran laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di Kuartal I-2026 juga senilai Rp77,96 miliar.

Dari sisi balance sheet, jumlah ekuitas PSGO per 31 Maret 2026 tercatat Rp2,81 triliun atau bertumbuh 2,8 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp2,73 triliun. Hingga akhir Maret 2026, total liabilitas bisa ditekan 64,8 persen (year-to-date) menjadi Rp445,38 miliar, namun masih didominasi kewajiban jangka pendek Rp337,45 miliar.

Per 31 Maret 2026, total aset emiten perkebunan dan pengolahan kelapa sawit ini mencapai Rp3,25 triliun atau menurun 18,6 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan bank tersisa Rp441,81 miliar alias ambles 61,5 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp1,15 triliun.

Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, penurunan kas tersebut terutama dipengaruhi adanya arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan Rp892,44 miliar atau meroket 938,7 persen (y-o-y). Ditambah lagi dengan arus kas bersih yang didapat dari aktivitas operasi melorot 34,8 persen (y-o-y) menjadi Rp218,11 miliar. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top