
RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) membukukan laba bersih Rp3,04 miliar atau meningkat 18,7 persen (year-on-year), namun arus kas dari aktivitas operasi justru tercatat negatif mencapai Rp26,48 miliar
Berdasarkan laporan keuangan GRPM untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, anak usaha PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI) ini mencatatkan penjualan Rp754,44 miliar atau mengalami kenaikan 6,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2024 sebesar Rp705,51 miliar.
Di tengah kenaikan omzet secara terbatas tersebut, beban pokok penjualan malah membengkak 7,2 persen (y-o-y) menjadi Rp698,22 miliar, sehingga laba bruto di Tahun Buku 2025 hanya meningkat 4 persen menjadi Rp56,22 miliar dari Rp54,08 miliar pada Tahun Buku 2024.
Pada periode Januari-Desember 2025, GRPM membukukan laba usaha Rp7,33 miliar atau bertumbuh 15,5 persen (y-o-y). Sayanganya, biaya keuangan FY25 tercatat membengkak 203,2 persen (y-o-y) menjadi Rp1,25 miliar, sedangkan penghasilan keuangan tercatat ambles 82,3 persen (y-o-y) menjadi Rp115,99 juta.
Dengan demikian, laba sebelum pajak penghasilan yang dicatatkan emiten distributor minuman berkarbonasi ini di sepanjang 2025 menjadi Rp6,2 miliar atau merosot 5,9 persen dibandingkan dengan laba sebelum pajak penghasilan di Tahun Buku 2024 yang sebesar Rp6,59 miliar.
Akibat adanya beban pajak penghasilan (neto) di Tahun Buku 2025 sebesar Rp1,84 miliar, maka laba tahun berjalan GRPM menjadi Rp4,36 miliar alias melorot 8,9 persen (y-o-y). Namun besaranan laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di 2025 sebesar Rp3,04 miliar atau meningkat 18,7 persen dibandingkan laba bersih 2024 senilai Rp2,56 miliar.
Dari sisi balance sheet, jumlah ekuitas GRPM per 31 Desember 2025 tercatat Rp89,73 miliar atau bertumbuh 1,7 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 senilai Rp88,27 miliar. Hingga akhir 2025, total liabilitas mencapai Rp95,93 miliar atau bisa ditekan 7,1 persen (y-o-y), namun masih didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp93,27 miliar.
Per 31 Desember 2025, emiten yang sahamnya dimiliki investor individu Endono Susanto Wijaya dan Willi ini mencatatkan total aset Rp185,66 miliar atau menurun 3,1 persen (y-o-y), dengan jumlah kas dan bank tersisa Rp4,73 miliar atau nyungsep 74,8 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2024 senilai Rp18,79 miliar.
Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Desember 2025, penurunan kas tersebut terutama dipengaruhi arus kas aktivitas operasi yang berbalik negative Rp26,48 miliar, padahal di periode yang sama 2024 bisa mencatatkan arus kas bersih yang didapat dari aktivitas operasi senilai Rp13,57 miliar.
Pada sisi lain, sepanjang 2025 perseroan mencatatkan arus kas bersih yang didapat dari aktivitas investasi sebesar Rp14,69 miliar atau berbading terbalik dengan kondisi di 2024 yang mencatatkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar Rp59,86 miliar.
Sementara itu di periode Januari-Desember 2025, GRPM mencatatkan arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan sebesar Rp2,28 miliar alias berbanding terbalik dengan periode Januari-Desember 2024 yang membukukan arus kas bersih dari aktivitas pendanaan sebesar Rp23,3 miliar. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
