
RollingStock.ID – PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) memutuskan untuk menjadi perusahaan tertutup (go private) dan menghapus pencatatan sahamnya (delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai bagian dari proses ini PT Iforte Solusi Infotek (iForte) selaku pemegang saham pengendali akan menggelar penawaran tender sukarela (VTO) kepada pemegang saham publik dengan harga Rp5.400 per saham.
Berdasarkan materi Public Expose IBST, manajemen perseroan menyebutkan bahwa rencana go private dan delisting tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh atas strategi bisnis jangka panjang grup dalam rangka menciptakan pengelolaan aset dan operasional yang lebih efisien. Langkah ini juga sejalan dengan upaya restrukturisasi grup, termasuk peninjauan kembali status kepemilikan saham olehh PT Sarana Menara Nusantara Tbk (SUPR).
Terkait rencana ini, IBST menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) pada 5 Juni 2026 untuk mendapatkan persetujuan para pemegang saham. Selanjutnya, pengumuman pernyataan VTO kepada dijadwalkan pada 9 Juni 2026, sedangkan masa penawaran tender sukarela akan berlangsung pada 1 Juli-30 Juli 2026. Adapun tanggal akhir pembayaran VTO diperkirakan pada 11 Agustus 2026.
Manajemen IBST memperkirakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan mencabut efektifnya Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum Efek bersifat ekuitas dan/atau Pernyataan Pendaftaran Perusahaan Publik pada 19 Maret 2027. Lalu, BEI dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) diperkirakan membatalkan pencatatan Efek dan penitipan kolektif pada 8 April 2027. Namun, seluruh tahapan tersebut masih bergantung pada persetujuan OJK, BEI, KSEI dan instansi berwenang lainnya.
Mengacu pada struktur pemegang saham IBST per 31 Desember 2025, iForte menguasai 99,95 persen saham perseroan, sedangkan kepemilikan masyarakat hanya sebesar 0,05 persen. IBST sebagai perusahaan milik Djarum Group merupakan salah satu penyedia menara dan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia yang memfokuskan usaha pada bisnis penyewaan menara telekomunikasi dan jaringan serat optik.
Per 31 Desember 2025, IBST memiliki 3.204 menara telekomunikasi, 5.756 penyewaan menara (tenancy), rasio penyewaan menara sebesar 1,8 kali dan aset serat optik sepanjang 19.458 kilometer. Dari sisi sebaran aset, wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara menjadi kontributor terbesar dengan 1.845 menara dan 10.725 kilometer serat optik.
Selain itu, perseroan memiliki 650 menara dan sepanjang 1.685 kilometer serat optik di DKI Jakarta, sebanyak 453 menara dan 4.909 kilometer serat optik di Pulau Sumatera, sebanyak 208 menara dan sepanjang 1.764 kilometer serat optik di Sulawesi, serta sebanyak 48 menara dan 375 kilometer serat optik di Pulau Kalimantan.
Ke depan, IBST akan menjalankan sejumlah strategi bisnis, seperti memperkuat bisnis kolokasi menara, menawarkan layanan terintegrasi yang menggabungkan menara telekomunikasi, jaringan serat optik dan solusi penyedia daya, menerapkan strategi harga yang kompetitif, mengembangkan jaringan serat optik termasuk metro-E, serta memperkuat sinergi dan integrasi dengan Protelindo Group.
Manajemen mengungkapkan, saat ini bisnis non-tower IBST menyumbang sebesar 26 persen dari total pendapatan (FTTT 24%), FTTH (1%) dan Connectivity (1%). Pada masa mendatang, perseroan akan mengupayakan peningkatan aset tower dan fiber optic dan mendorong utilisasi seperti tenancy ratio dan utilization ratio.
Dari sisi kinerja keuangan, IBST membukukan pendapatan Rp872 miliar di sepanjang 2025 atau bertumbuh 1,1 persen (year-on-year), dengan EBITDA tercatat melonjak 36,6 persen menjadi Rp791 miliar dari Rp579 miliar pada Tahun Buku 2024.
Sementara itu laba bersih di 2025 tercatat Rp411 miliar atau berbanding terbalik dibanding setahun sebelumnya yang mengalami rugi bersih Rp1,85 triliun pada. Adapun margin EBITDA untuk Tahun Buku 2025 tercatat melambung menjadi 90,7 persen dari 67,2 persen pada Tahun Buku 2024.
Perbaikan kinerja keuangan tersebut tidak terlepas dari bergabungnya IBST ke dalam Protelindo Group, yang memberikan sejumlah manfaat strategis. Perseroan juga mendapatkan akses terhadap skala usaha yang lebih besar, penerapan best practice yang lebih luas dan berbagai peluang sinergi yang dapat meningkatkan efisiensi maupun daya saing.
Selama tiga bulan pertama tahun ini, IBST membukukan pendapatan Rp199 miliar dengan EBITDA sebesar Rp183 miliar dan margin EBITDA mencapai 92,3 persen. Laba bersih di Kuartal I-2026 tercatat Rp45 miliar, sedangkan jumlah menara mencapai 3.201 unit dengan 5.811 penyewaan menara dan rasio penyewaan sebesar 1,82 kali. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
