Fitch Turunkan Peringkat Investor Institusi GEMS ke Level B, Outlook Negatif

dssa
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSS) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Fitch Ratings memutuskan untuk menurunkan peringkat jangka panjang Issuer Default Rating (IDR) milik Golden Energy and Resources Pte Ltd (GEAR) yang merupakan salah satu pemegang institusi PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), lantaran melemahnya likuiditas GEAR.

Berdasarkan hasil riset Fitch yang dikirim melalui surat elektronik, Senin (8/6), pihaknya menurunkan peringkat GEAR dari B+ (Single B Plus) menjadi B, dengan prospek perusahan di posisi “Negatif”. Selain itu, Fitch juga menurunkan peringkat obligasi berdenominasi dolar AS miliak GEAR dari BB- (Double B Minus) menjadi B Plus.

Tim Riset Fitch menyampaikan, penurunan peringkat tersebut mencerminkan pelemahan likuiditas GEAR yang disebabkan tingginya beban bunga utang, jatuh tempo obligasi yang akan datang, serta kebutuhan pendanaan untuk mendukung perusahaan tambang emas yang dimiliki 50 persen, yaitu Ravenswood Gold Pty Ltd (RWG) yang sedang menjalani proses restrukturisasi utang.

Sementara itu, outlook negatif menunjukkan bahwa kondisi likuiditas GEAR masih terbilang ketat. “Risiko dapat meningkat apabila proses refinancing obligasi jatuh tempo 2027 berjalan lebih lambat dari perkiraan atau jika kebutuhan dana untuk RWG lebih besar dari asumsi Fitch”.

Lebih lanjut Tim Riset Fitch menyebutkan, peringkat B juga mencerminkan adanya beban utang yang besar di tingkat induk perusahaan (holding company), posisi kreditur yang secara struktural berada di bawah utang anak usaha, strategi ekspansi melalui akuisisi yang agresif dan kondisi likuiditas yang terbatas.

Pada sisi lain, profil bisnis perusahaan pemilik 6,99 persen saham GEMS ini masih ditopang aset batubara metalurgi (coking coal) di Australia yang memiliki biaya produksi kompetitif dan cadangan berumur panjang. Sekadar informasi, kepemilikan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) di GEMS mencapai 51 persen.

GEAR dimiliki Keluarga Widjaja yang terkait dengan Sinar Mas Group. Fitch beranggapan, struktur kepemilikan yang terkonsentrasi meningkatkan risiko tata kelola, karena pemegang saham memiliki ruang besar untuk mengubah strategi bisnis maupun keuangan perusahaan.

Fitch mengungkapkan, faktor utama penurunan peringkat adalah pada sisi likuiditas yang melemah. Per 31 Desember 2025, dividen yang diterima GEAR tidak cukup untuk membayar bunga utang, memenuhi kebutuhan operasional induk perusahaan dan tidak memberikan dukungan keuangan kepada RWG.

Adapun rasio cakupan bunga (interest coverage) GEAR di tingkat induk perusahaan berada di bawah 0,8 kali. Jika kas yang tersedia diperhitungkan, maka rasio tersebut hanya 1,3 kali. Kondisi likuiditas semakin melemah pada Semester I-2026, karena tambahan pendanaan untuk RWG, termasuk modal kerja dan refinancing utang.

Untuk memenuhi kebutuhan kas selama setahun terakhir, GEAR tercatat melakukan penjualan sebagian kepemilikan di anak usaha tambang batubara metalurgi, Illawarra Metallurgical Coal (IMC) dan memperoleh dana USD114 juta, serta dukungan pemegang saham sebesar USD60 juta pada Semester I-2026.

Fitch memperkirakan, rasio cakupan bunga GEAR dapat dipertahankan di kisaran 1,5-2 kali dalam dua tahun ke depan. Risiko refinancing obligasi dolar AS yang jatuh tempo pada November 2027 dianggap dapat dikelola, karena perusahaan masih memiliki fleksibilitas keuangan dan aset batubara metalurgi berkualitas di Australia.

Menurut laporan Fitch, GEAR juga berpotensi mendapatkan tambahan dana melalui penjualan sebagian saham di Stanmore Resources Ltd. Penjualan sebesar 8 persen saham akan membuat GEAR mempertahankan kendali dengan kepemilikan 51 persen.

Fitch menilai, keterlambatan penyelesaian restrukturisasi utang RWG dapat meningkatkan tekanan terhadap likuiditas GEAR. Saat ini RWG mendapatkan kelonggaran dari kreditur setelah gagal memenuhi kewajiban pembayaran transaksi lindung nilai pada April 2026. Dalam skenario dasar Fitch, GEAR harus memberikan dukungan dana USD60 juta kepada RWG sepanjang 2026.

Sebagai holding company, GEAR sangat bergantung pada dividen dari Stanmore yang dimiliki 59 persen dan dividen dari GEMS. Sementara itu, akses terhadap kas dari IMC relatif terbatas karena perusahaan ini masih menjalankan program belanja modal (capex) hingga 2027 dan masih membayar utang akuisisi.

Rasio utang bersih terhadap EBITDA (net leverage) GEAR membaik menjadi 3,5 kali pada akhir 2025 dari 4,3 kali pada akhir 2024. Tetapi Fitch memproyeksikan rasio tersebut bisa meningkat hingga 5 kali pada 2027, karena tingginya capex IMC, sebelum turun kembali ke kisaran 4,4 kali dalam jangka menengah.

“Gangguan produksi yang sempat terjadi di tambang IMC akibat runtuhan atap tambang dan ditemukannya rongga bawah tanah pada Semester I-2026 diperkirakan dapat diatasi, sehingga target produksi 2026 tetap tercapai,” demikian disampaikan Fitch.

Tim Riset Fitch menyebutkan, kenaikan harga bahan bakar akibat gangguan pengiriman di Selat Hormuz diperkirakan dapat diimbangi kenaikan harga batubara metalurgi pada 2026. Stanmore lebih rentan terhadap kenaikan biaya bahan bakar karena menggunakan tambang terbuka (open pit), sedangkan IMC diperkirakan tetap meraih peningkatan EBITDA per ton karena operasinya berupa tambang bawah tanah yang lebih sedikit mengonsumsi bahan bakar.

Meski menghadapi tekanan likuiditas, Fitch menilai bahwa GEAR tetap memiliki sejumlah keunggulan, seperti portofolio aset batubara metalurgi dengan posisi biaya produksi menengah dalam kurva biaya global, umur cadangan sekitar 25 tahun dan seluruh aset utama berada di Australia yang memiliki risiko negara lebih rendah dibanding banyak negara produsen batubara lainnya. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top