
RollingStock.ID – PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) menargetkan pendapatan di Tahun Buku 2026 mencapai USD542,79 juta atau bertumbuh 10,4 persen dibandingkan dengan realisasi pendapatan di sepanjang 2025 sebesar USD491,88 juta.
Berdasarkan keterangan GMFI di dalam materi Public Expose yang akan digelar secara daring hari ini (10/6), emiten di bawah kendali PT Angkasa Pura Indonesia ini juga membidik laba bersih untuk Tahun Buku 2026 mencapai USD34,47 juta. Sepanjang 2025, perseroan meraih laba tahun berjalan sebesar USD33,97 juta, dengan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk senilai USD33,95 juta.
Sementara itu, emiten pemilik brand GMF AeroAsia ini menargetkan EBITDA di 2026 sebesar USD81,82 juta. Manajemen GMFI menilai, momentum pemulihan industri penerbangan dan meningkatnya kebutuhan layanan perawatan pesawat (MRO) menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja.
Mengacu pada laporan keuangan Tahun Buku 2025, GMFI membukukan pendapatan USD491,8 juta atau mencapai 109,65 persen dari target, sedangkan EBITDA sebesar USD79,9 juta alias setara dengan 108 persen dari target.
Guna mencapai target FY26, GMFI menyiapkan sejumlah inisiatif strategis, antara lain ekspansi ke Timur Tengah melalui pemanfaatan fasilitas hanggar MRO yang akan dioperasikan melalui perusahaan patungan. Inisiatif ini diperkirakan menghasilkan pendapatan USD16 juta di 2026, dengan potensi pertumbuhan 2,5 hingga 3,5 kali lipat dalam tiga tahun mendatang.
Manajemen menyampaikan, perseroan juga memperluas kapasitas perawatan pesawat melalui pemanfaatan hanggar Pelita Air di Pondok Cabe, sejalan dengan upaya meningkatkan kemampuan perawatan pesawat berbadan sempit dan turboprop. Inisiatif ini diperkirakan bisa memberikan kontribusi pendapatan lebih dari USD3 juta.
Selain itu, GMFI mengembangkan Kertajati Aerospace Park melalui skema operasi bersama dengan PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB). Kawasan tersebut diarahkan menjadi ekosistem MRO pertahanan terbesar di Indonesia dengan GMFI sebagai anchor tenant. Proyek ini diproyeksikan menyumbang pendapatan lebih dari USD2 juta dalam tiga tahun mendatang.
Lebih lanjut manajemen GMFI menyebutkan, pihaknya juga mendorong diversifikasi usaha melalui proyek aerostruktur yang memanfaatkan fasilitas dan kapabilitas yang dimiliki untuk memperkuat ekosistem manufaktur komponen pesawat di Indonesia. Inisiatif tersebut diyakini mampu menghasilkan pendapatan ratusan ribu dolar AS di 2026, dengan potensi pertumbuhan hingga lima kali lipat dalam tiga tahun ke depan.
Sementara itu, proyek ekspansi hanggar di Cengkareng juga terus dipersiapkan untuk meningkatkan kapasitas perawatan pesawat berbadan lebar maupun berbadan sempit. Dalam tiga tahun ke depan, proyek ini diperkirakan bisa memberikan tambahan pendapatan lebih dari USD8 juta.
Manajemen memandang, prospek industri MRO masih terbuka lebar, karena beradasarkan data Aviation Week 2025, total permintaan pasar MRO Indonesia akan mencapai USD2,1 miliar pada tahun 2034. Segmen perawatan mesin diperkirakan menjadi kontributor terbesar dengan pangsa sebesar 48 persen, diikuti komponen sebesar 23 persen dan line maintenance sebesar 20 persen.
Selain itu, manajemen GMFI menyatakan, perseroan juga berupaya memperluas basis pelanggan di luar grup usaha, termasuk dari segmen pemerintah dan pertahanan, melalui penetrasi pasar regional, peningkatan kapabilitas dan optimalisasi kontrak yang berorientasi pada profitabilitas. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
